PETUGAS dari BPOM Semarang mengumpulkan beberapa sachet jamu yang diduga bermasalah di Sampang, Cilacap, Rabu (8/8/2018).

CILACAP, SATELITPOST-Pabrik pembuatan jamu rumahan di RT 19 RW 7 Desa Sidasari Kecamatan Sampang digerebek oleh Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Semarang dan Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Rabu (8/8). Diduga jamu yang diproduksi tersebut mengandung bahan kimia obat (BKO).

Pelaksana Tugas Kepala Balai BPOM Semarang, Zeta Rina Pujiastuti mengatakan jika dalam penggerebekan tersebut, BPOM dan Polda Jawa Tengah menyita dua set mesin filling, satu set mesin pres. Selain itu disita juga serbuk kimia obat berwarna putih, produk jadi dengan berbagai merek seperti Africa Black Ant, Urat Kuda, Buaya Jantan, Galaksi. Ada juga produk belum dikemas yang disita.

Selain itu juga ada kemasan sekunder sebanyak 7.550 lembar, Jamu Urat Kuda 110 sachet, Jamu Galaksi obat kuat 230 sachet, produk Black Ant sebanyak 883 dus dengan isi dalam dus sebanyak 12 sachet, produk jamu sebanyak 21.928 sachet, serta dokumen pengiriman.

“BPOM dan Polda Jateng menertibkan obat tradisional yang mengandung BKO, dan juga di sini ditemukan bahan kimia yang bentuknya serbuk putih yang diduga mengandung sildenafil. Bahkan produk Black Ant ini sudah pernah diuji dan mengandung sildenafil,” ujarnya, kemarin.

Pihaknya juga membawa sebagian serbuk putih yang diduga mengandung sildenafil, untuk diuji di laboratorium. Sehingga bisa mengetahui dengan pasti jenis bahan kimia apa yang dicampur oleh pelaku. Pasalnya sildenafil merupakan obat yang digunakan untuk menangani disfungsi ereksi atau disebut ereksi.

“Seharusnya jamu tradisional ini dibuat dari bahan alami, jadi tidak boleh jika dicampur dengan bahan kimia obat, tentu ada efek sampingnya, akibatnya bisa ke arah jantung,” katanya.

Pemilik pabrik jamu, SAL, mencampur dan mengemas jamu dengan BKO di rumah milik RT setempat yang dikontraknya. Bahkan dia menyimpan mesin untuk produksi jamu di dalam lemari.

Dalam sehari, pelaku bisa memproduksi jamu sebanyak 800-900 dus dengan isi satu dus sebanyak 12 sachet. Omzetnya mencapai Rp 200 juta. Jamu-jamu tersebut sudah dipasarkan sampai ke Jakarta, tetapi dia menduga jamu tersebut juga didistribusikan ke luar Pulau Jawa.

“Produksi di rumah, pelaku menyampaikan kalau baru memproduksi tahun ini, dan baru tiga bulan. Tapi kami akan dalami lagi kebenarannya,” ujarnya. (ale)