SIMULASI penanganan korban bencana dalam pencananangan Kampung Tanggap Bencana dan Madrasah Tanggap Bencana di Kebon Sayur Kelurahan Tambakreja, Cilacap Selatan, Sabtu (6/10/2018).SATELITPOST/RENNY TANIA

CILACAP, SATELITPOST-Gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,2 mengguncang Kampung Kebon Sayur RW 5 Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan, Sabtu (6/10/2018) siang. Sontak warga berhamburan keluar rumah untuk menghindari bangunan runtuh.

Sesaat kemudian warga berlarian mengevakuasi diri menuju gedung bertingkat. Menyusul  peringatan dari BMKG akan adanya potensi tsunami pascagempa hebat tadi.

Tidak hanya warga, para siswa-siswi yang berada di dalam sekolah dan madrasah pun ikut mengevakuasi diri menuju ke titik kumpul yang sudah ditentukan.

“Ini merupakan kegiatan simulasi dalam rangka pencanganan Kampung Siaga Bencana (Katana) dan Madrasah Tanggap Bencana (Mantab) yang diinisiasi oleh Baznas (Badan Amil Zakat Nasional),” ujar Komandan Wilayah Kota, Munawir, kemarin.

Simulasi ini, kata dia, untuk melatih warga Kampung Kebon Sayur dan siswa madrasah yang ada di sekitarnya, untuk meningkatkan kapasitas serta tanggap bencana. Pasalnya, wilayah Indonesia, terutama Cilacap sangat berpotensi terhadap bencana, gempa, dan tsunami. Apalagi, Kebon Sayur berada di wilayah yang sangat dekat dengan pantai.

“Bukan untuk menakut-nakuti, ini sebagai  bentuk pembelajaran bagi kita semua. Karena kita berada di zona yang rawan bencana termasuk,” katanya.

Ada sekitar 500 warga yang terlibat dalam simulasi bencana. Mereka sebelumnya juga diberikan pemahaman terkait dengan penanganan gempa dan tsunami, serta arah evakuasi mandiri.

Wakil Ketua 2 Baznas Cilacap, Hamidan Majdi mengatakan, jika di Jawa tengah, Kampung Kebon Sayur Cilacap ini menjadi percontohan Katana dan Mantab. Saat ini di Indonesia ada 9 daerah yang sudah dibentuk Katana, termasuk Cilacap.

“Setelah simulasi ini, ada peresmian Katana oleh Baznas tanggap bencana pusat, dan tindakan selanjutnya, nanti akan menyosialisasikan ke lingkungan lain, bukan hanya di kampung Kebon Sayur ini,” ujarnya.

Simulasi bencana ini, juga bekerjasama dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Cilacap, PMI Cilacap, Orari, TNI dan juga aparat Kepolisian.

Kepala Pelaksana BPBD Cilacap, Tri Komara Sidhy mengatakan, dengan ini sebagai kesiapsiagaan dari masyarakat dengan kemungkinan yang terjadi di wilayah yang menjadi supermarketnya bencana.

“Warga harus siaga 247, dan tentunya evakuasi secara mandiri tidak ada istilah dioprak-oprak dan tidak siap dalam evakuasi. Karena diri sendiri harus bisa mengevakuasi diri, jangan tergantung orang lain. Kegiatan ini sangat bermaanfaat bagi masyarakat bisa menjadi edukasi bencana,” ujarnya.

Sementara itu, Andi Susilo dari PMI Cilacap mengatakan dengan ada simulasi ini, nantinya juga akan dilakukan evaluasi terkait dengan jalur evakuasi. Sehingga nantinya masyarakat sudah memiliki mindset cara mengevakuasi diri jika terjadi bencana gempa dan tsunami.

“Satu tujuan simulasi ini untuk mencari jalur evakuasi terbaik. Namun yang terpenting ada dua jenis evakuasi yang dilakukan. Yakni lari sejauh-jauhnya dari bibir pantai dan naik setinggi-tingginya dua hal ini yang kita lakukan untuk tindakan penyelamatan,” katanya.

Manisem (55), warga RT 4 RW 5 Kebon Sayur mengatakan, sudah dua kali ini mengikui simulasi bencana. Dia mengatakan sudah paham akan evakuasi diri. Meskipun, kata dia belum memersiapkan barang-barang yang harus dibawa.

“Tadi cepet-cepet jadi bawanya seadanya, ini baru latihan, semoga ngga ada kejadian di Cilacap, tapi kami harus siap,” ujarnya. (ale@satelitpost.com)