CILACAP, SATELITPOST – Miris, mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan perjuangan PSCS Cilacap dalam mengarungi kompetisi Liga 2 Indonesia 2019. Bagaimana tidak, ketika tim sudah bangkit dari keterpurukan di Liga 3 Indonesia, PSCS tetap belum mendapatkan dukungan dan kepedulian dari sejumlah perusahaan raksasa yang beroperasi di Cilacap.

Ketua Umum sekaligus Manajer PSCS Cilacap, Bambang Tujiatno ST MM mengatakan, di kompetisi Liga 2 Indonesia kebutuhan dana sangat luar biasa, bahkan menyentuh angka lebih dari Rp 7 miliar. Sebab, beberapa pertandingan tandang ke luar daerah bahkan luar pulau dilakukan, artinya kebutuhan finansial benar-benar tinggi.

“Kita sudah memasuki putaran kompetisi Liga 2 Indonesia, beberapa pertandingan sudah dilakukan termasuk beberapa laga tandang hingga ke pulau Sumatera melawan tim yang bermarkas di Palembang yakni Sriwijaya FC serta Babel United (Aceh United) Pangkal Pinang. Untuk pesawat saja kita bisa menelan biaya hingga Rp 120 juta,” katanya.

Hingga kini belum ada kepastian dari sejumlah perusahaan  besar yang ada di Cilacap. Dari perusahaan yang sudah berkontribusi juga belum bisa menutup sepenuhnya kebutuhan PSCS, bahkan belum mencapai 10 persen.

“Sejumlah perusahaan-perusahaan yang ada di Cilacap itu seolah kepedulianya kurang. Seperti Pelindo itu blas tidak ada, kemudian Pertamina belum ada kabar, saya telfon juga tidak diangkat,” ujarnya.

Perusahaan lain seperti PT Dus Gula Rafinasi, Terus Jaya, serta sejumlah perusahaan raksasa lainnya juga belum ada kontribusinya. Seperti PLTU Bunton dan PT Solusi Bangun Indonesia (Hocim) juga tidak memberikan kontrubisi yang cukup layak untuk PSCS.

“Kadang ya mohon maaf ketika saya keluar daerah pada pertandingan away dan lainya, orang menganggap dan ngomong bahwa PSCS merupakan tim kaya yang mendapat sokongan dana dari sejumlah perusahaan besar seperi minyak, semen, dan lain sebagainya, mereka itu salah,” kata dia.

Belum ada kontribusi nyata yang sesuai dengan seberapa besar perusahaan itu di Cilacap. “Selayaknya ketika berdiri, makan, dan minum di Cilacap, bahkan imbas atau dampak dari perusahaan dirasakan sejumlah masyarakat, seharusnya peduli dengan tim kebanggaan masyarakatnya,” kata dia. (and)