PERWAKILAN Dompet Dhuafa Banyumas melakukan pendampingan kesehatan kepada korban kekerasan aparat dalam aksi penolakan PLTPB Baturraden, Kamis (12/10).

PUR‎WOKERTO, SATELITPOST- Domoet Dhuafa Purwokerto mendampingi korban pemukulan aparat dalam aksi penolakan PLTPB Baturraden, Senin (9/10) malam.  Manajer area Dompet Duafa‎ Purwokerto, Titi Ngudiati mengatakan, setelah kejadian mahasiswa meminta bantuan Domoet Dhuafa untuk advokasi kesehatan mahasiswa korban pemukulan aparat.

“Kami melakukan pendampingan untuk mereka, supaya melakukan pemeriksaan ke Rumah Sakit sejak Selasa (10/10) malam. Sebagai Non Governmental Organization (NGO) yang selama ini mendampingi dan melakukan advokasi di bidang kesehatan masyarakat miskin, kami tergerak juga melakukan pendampingan kepada para korban.” kata Titi, Kamis (12/10).

Ia mengaku prihatin dengan kejadian tersebut. Terlebih sejak pagi, pihaknya memang sudah diminta Aliansia Selamatkan Slamet untuk mendampingi massa aksi, jika ada yang sakit dan lainnya.

“Memang pas kejadian “chaos” malam itu,posisi tenda medis kami kosong. Hanya ada  kontainer-kontainer berisi alat kesehatan dan obat-obatan ringan. Alhamdulillah beberapa masih bisa diselamatkan barang-barangnya,” katanya.

Sementara, menurut dia, biaya berobat korban pemukulan di tanggung pihal Dompet Dhuafa. Dalam pantauan Dompet Dhuafa, menurut dia, banyak korban yang mengalami luka lecet, memar,  sobek di pelipis, bibir, luka terbuka, serta beberapa nyeri di bagian perut.

“Semua korban yang kami dampingi tidak ada yang harus menjalani rawat inap, alahamdulillah. Namun korban yang harus menjalani pemeriksaan lebih lanjut di poli mata, rencana akan kita rujuk ke poli mata besok pagi. Karena yang bersangkutan mengalami kabur pada matanya,” kata dia.

Hingga Kamis (12/19) sore, Dompet Dhuafa mencatat sudah ada 19 mahasiswa yang menjalani pemeriksaan kesehatan karena adanya keluhan sakit.Namun menurut dia, tidak menutup kemungkinan korban terus bertambah. Sebab, berdasarkan hasil asessment Dompet Dhuafa,  banyak mahasiswa dan juga masyarakat umum yang terkena pukulan langsung kembali ke rumah.

“Seperti saudara SU (21) baru berani memeriksakan diri setelah 3 hari kejadian. Selain karena masih syok dan trauma,  korban juga saat itu langsung pulang ke Cilongok.‎ Kami menghimbau kepada para korban yang belum mendapatkan layanan medis, namun ada keluhan agar menghubungi segera agar mendapatkan penanganan secepat mungkin,” katanya.

Terkait hak-hak para korban, pihaknya mengungkapkan juga akan membantu komunikasikan dengan pemerintak kabupaten dan polres. Supaya ke depan biaya berobat bisa dijamin, sampai mereka sembuh.‎ (alf)

Komentar

komentar