WABUP Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi mempraktikan pengolahan sampah plasik menjadi ekobrik bersama pegiat literasi Limbah Pustaka di Kemangkon, Sabtu (3/3).

PURBALINGGA, SATELITPOST-Persoalan sampah plastik menjadi kian pelik, khususnya di Purbalingga yang baru saja menghadapi penolakan warga terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Banjaran. Setelah diputuskan ditutup, mulai muncul keluhan sampah berserakan di sejumlah titik. Namun muncul secercah harapan ketika sekelompok perempuan mempelopori pengolahan lombah sampah anorganik menjadi barang yang memiliki nilai guna tinggi. Inovasi itu menghasilkan ekobrik.

Semoga Limbah Pustaka dapat terus menginspirasi masyarakat di Purbalingga untuk lebih perhatian terhadap lingkungan dan peningkatan terhadap literasi

Dyah Hayuning Pratiwi SE BEcon
Wakil Bupati Purbalingga

Ekobrik dibuat dengan media botol plastik bekas yang diisi dengan sampah anorganik sampai keras dan padat. Setelah itu, botol disusun menjadi berbagai macam barang, antara lain kursi meja, lemari dan lainnya. Ekobrik dinilai menjadi solusi permasalahan sampah plastik karena melalui proses mendaur ulang sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat.

Roro Hendarti  atau yang biasa disapa Arti merupakan seorang pegiat literasi di Desa Muntang, Kecamatan Kemangkon yang mempelopori pembuatan ekobrik di Purbalingga. Melihat sampah yang semakin hari kian menggunung, Arti mengaku prihatin hingga akhirnya tercetus ide untuk belajar pembuatan ekobrik.

Awalnya, ia mengajak ibu-ibu di sekitar rumahnya untuk ikut belajar membuat ekobrik. Dari sinilah, Arti membelajarkan warga disekitarnya untuk mulai memilah dan memanfaaatkan sampah. Sampah yang dipilah dan dapat digunakan menjadi ekobrik yakni sampah plastik yang sudah dibersihkan.

“Sampah plastik yang dimasukan ke dalam botol sudah dalam keadaan bersih. Warna plastiknya pun harus bermacam-macam supaya hasilnya menarik,” kata Arti, Sabtu (3/3).

Sebelum dimasukkan ke dalam botol plastik kosong berukuran 1,5 liter, plastik dipotong-potong terlebih dahulu agar mudah dimasukkan. Kemudian, plastik di dalam botol ditekan-tekan dengan kuat menggunakan kayu atau alat lainnya hingga padat dan keras. “Untuk alas di dalam botol menggunakan plastik yang utuh biar lebih merata di bawah,” ujar dia sambil memasukan plastik ke dalam botol.

Untuk memenuhi botol berukuran 1,5 liter kurang lebih memerlukan 1 Kg sampah plastik hingga padat dan terisi. Setelah terpenuhi dan tidak dapat dimasukkan plastik kembali, botol bekas yang sudah terisi ditutup rapat. “Untuk membentuk jadi kursi atau meja, botol yang sudah diisi dengan plastik dilem satu sama lain sampai terbentuk benda yang diinginkan,” ujar Arti.

Hal ini menarik perhatian Wakil Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi saat berkunjung ke Limbah Pustaka, Desa Muntang, Kecamatan Kemangkon. Bahan pembuatan ekobrik yang telah disiapkan langsung dipraktekannya menjadi ekobrik. “Jadi sekarang sudah harus mulai memilah sampah di rumah ya,” kata Tiwi sambil memasukan potongan plastik ke dalam botol.

Menurut Tiwi, ekobrik harus dikenalkan kepada masyarakat Purbalingga juga siswa di sekolah-sekolah. Dengan adanya sosialisasi pemilahan sampah juga pembuatan ekobrik maka permasalahan sampah yang selama ini selalu dikeluhkan menjadi berkurang. “Seperti di SMP Negeri 1 Kemangkon, lingkungannya dipercantik dengan gazebo, meja dan kursi dari ekobrik,” ujar Tiwi.

Dengan adanya pemanfaatan limbah plastik menjadi ekobrik di Limbah Pustaka, Desa Muntang maka dapat menginspirasi warga untuk belajar memilah dan memanfaatkan sampah. Limbah Pustaka, Desa Muntang juga dapat dijadikan sebagai wisata edukasi pengelolaan sampah plastik.

“Halaman rumahnya kan luas, ini bisa dibuat taman pakai ekobrik. Jadi, nanti ke depannya bisa jadi wisata edukasi buat anak-anak dan keluarga yang mau belajar memanfaatkan sampah plastik,” kata Tiwi usai menyelesaikan ekobrikya.

Tiwi menyerahkan bantuan berupa lemari buku dan buku-buku bacaan pada Limbah Pustaka di akhir kunjungan itu. Tiwi menyampaikan bantuan tersebut sebagai wujud apresiasi Pemerintah Kabupaten Purbalingga pada Perpustakaan Limbah Pustaka yang aktif di bidang literasi dan pelestarian lingkungan hidup. “Semoga Limbah Pustaka dapat terus menginspirasi masyarakat di Purbalingga untuk lebih perhatian terhadap lingkungan dan peningkatan terhadap literasi,” ujar dia. (amin@satelitpost.com)