PEMERAN dan kru film Nyathil , Irna pemeran Nur, Anggita sutradara, Nasir pemeran kades, Apriyanto pemeran Ahmad, dan Tri Wahyuni Line Produser (kiri ke kanan).

PURBALINGGA, SATELITPOST – Hal ini disampaikan oleh sutradara film Nyathil Anggita Dwi Martiana saat ditemui oleh SatelitPost di SMK Muhammadiyah Bobotsari. “Ide dari film Nyathil sendiri saya diskusi sama temen di teater Saka, kami ambil dari cerita warga yang dapat bantuan RLTH , tapi ternyata kuantitas dan kualitas bahan materialnya tidak sesuai dengan yang dijanjikan, yang material dengan harga sepuluh juta, tapi ternyata beda dengan kualitas dan harga sebenarnya, itu diambil dari cerita riil yang ada di masyarakat di pedesaan di Purbalingga. Ya ini juga sebagai kritik sosial juga buat pemerintah maupun masyarakat,” katanya

Ia mengaku proses penggarapan film hanya berlangsung 1 hari. Dengan melibatkan 18 crew film ” Ya kalau latihan sekitar 1-2 Minggu , tapi kalau untuk penggarapannya hanya 1 hari,” katanya. Ia menjelaskan tentang judul Nyathil sendiri diambil dari bahasa Ibu, dengan tujuan  d agar menarik dan menguggah perhatian orang. “Menggugah rasa penasaran orang-orang, kalau maling atau koruptor kan biasa, orang-orang sudah tahu, kalau nyathil kan Local Wisdomnya Purbalingga,” katanya

Nasir (44) pemeran Antagonis Kades Karangkesemek. Menceritakan kesulitan yang ia hadapi saat memerankan tokoh Kades “waktu mendesak, dikasih naskah malam, siang langsung syuting, menghafal sambil mempelajari, ya improvisasi juga. semoga film ini bisa ikut andil untuk memotivasi generasi muda,” katanya

Irna Anrdi Atun pemeran Nur mengatakan film ini adalah pengalaman pertamanya ” ga nyangka jadi pemeran utamanya  yang paling sulit menghafal naskah, karena persiapan hanya 1/2 Minggu, sebelum hari latihan dua kali, ekspresi juga sulit. Belum pernah main, ini pertama kali,” Katanya

Pemeran utama Apriyanto yang memerankan Ahmad sangat bangga dan beruntung Filmnya  bisa masuk Nominasi FFI, ” ya bangga, karena bisa membuat orang tua saya bangga, karena bagi saya orang tua adalah harta yang paling berharga,” katanya

Tri Wahyuni selaku guru Seni dan Budaya SMK Muhammadiyah Bobotsari mengaku senang dan bangga anak didiknya  bisa ikut nominasi FFI. “Terus berkarya, produksi terus dan dapet prestasi lagi, kami juga tidak menyangka, ini kan sebenarnya persiapan filmya dadakan semua, persiapan cuma beberapa hari,  produksi cuma 1 hari. Film Nyathil ini juga dapet juara di event nasional dalam rangka apresiasi penndidikan keluarga yang diadakan oleh Kemendikbud kemarin, dan kemudian tembus FFI ya kami sangat bangga, karena FFI ini ajang bergengsi , Nyathil ini juga menjuarai Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional Kabupaten. Kami masuk nominasi FFi juga udah sangat bahagia, kalau nanti menang ya itu mungkin bonus buat kami,” katanya. Pada 11 November 10 nominator akan dijadwalkan berangkat ke Manado untuk mengikuti malam penghargaan FFI. (cr)

Komentar

komentar