AJIBARANG, SATELITPOST-Jengkol, buah yang juga masuk kategori sayur yang terkenal dengan baunya yang khas, ternyata sudah hampir sebulan ke belakang jarang ditemukan di sejumlah pasar tradisional di Banyumas. Bukan hanya langka, harga per kilogram jengkol pun meroket mengalahkan harga daging ayam.

Karti (43), seorang pedagang jengkol di Pasar Induk Ajibarang mengaku telah sebulan ini kesulitan  mendapatkan pasokan jengkol. Padahal, hampir setiap hari pembeli menanyakan jengkol.

Terlebih bagi para pedagang makanan yang tiap harinya memasak jengkol untuk dijual. Ia mengaku baru dua minggu belakangan mendapatkan jengkol. Itupun diperolehnya melalui pemasok dari Sumatra. “Stok ini baru dapat dua minggu kemarin, pemasok jengkol yang biasa sudah hampir sebulan ini tidak  ke pasar,” kata Karti di lapak jualannya, Kamis (9/8).

Karti mengatakan, harga jengkol yang dijualnya mencapai Rp 40.000 per kilogramnya. Harga itu lebih mahal dari harga daging ayam potong yang hanya Rp 28.000 – Rp 30.000 per kilogramnya. Meski mahal, namun banyak pembeli yang menginginkannya. Terlihat, lapak jengkol Karti ramai oleh pembeli yang sibuk memilih-milih jengkol untuk dibawa pulang.

Hal sama dikatakan Toha (38), pedagang jengkol di Pasar Tradisional Cilongok, Toha mengaku langkanya pasokan jengkol dari informasi yang didapatnya karena  minimnya pasokan jengkol akibat faktor cuaca buruk. Padahal, tahun sebelumnya pasokan jengkol di wilayah Kabupaten Banyumas selalu tersedia.

“Saya juga kaget harga jengkol bisa jadi mahal. Soalnya kan jengkol cuaca apa pun selalu ada, dan harganya murah. Tapi, pernah sih harga jengkol naik. Terutama setelah lebaran kemarin. tapi tak  semahal sekarang,” ujarnya.

Toha mengatakan, ‎sebagian besar pembeli jengkol di lapaknya adalah para pemilik warung nasi dan penjual lauk nasi. Mereka biasanya hampir setiap hari membeli jengkol untuk dimasak dan dijadikan lauk nasi. Namun, saat ini mereka mengurangi pembelian jengkol karena harganya yang  mahal dan barangnya langka.

“Mungkin mereka juga bingung menjualnya karena harganya yang mahal. Kalau biasanya beli per kilo, sekarang belinya paling hanya seperempat kilo. Seperempat kilo saya jual Rp 11 ribu.” katanya. (rar)