BUAYAN, SATELITPOST- Masyarakat yang tergabung dalam Persatuan Rakyat Penyelamat Karst Gombong (Perpag) menggelar audiensi bersama dengan PT Semen Gombong di Kantor Kecamatan Buayan, Kamis (28/11).

Hal itu dilakukan untuk mengklarifikasi surat edaran PT Semen Gombong yang ditujukan kepada petani penggarap lahan yang dikuasai oleh PT Semen Gombong. Yakni, perihal penghentian kegiatan pemanfaatan lahan. Audiensi yang difasilitasi oleh Pemerintah Kecamatan Buayan dan Polsek Buayan dihadiri sedikitnya 30 warga penggarap lahan yang tergabung dalam Perpag dan Direktur PT Semen Gombong.

Ketua Umum Perpag, H Samtilar menjelaskan, adanya surat edaran penghentian penggarapan lahan secara tiba-tiba oleh PT Semen Gombong meresahkan para petani penggarap. Sebab, beberapa petani sudah mengeluarkan kocek yang tidak sedikit dalam melakukan aktivitas pemupukan dan penanaman.

Selain itu, bagi mayoritas petani, hasil pengolahan lahan merupakan penopang utama kebutuhan mereka sehari-hari. “Hasil dari audiensi tersebut diperoleh klarifikasi bahwa PT Semen ingin mendata lahan yang dikuasasi oleh PT Semen Gombong dan ingin mengalihfungsikan lahan dari lahan yang diperuntukan sebagai lahan tambang bahan baku semen menjadi lahan konservasi,” ujar dia.

Dia menjelaskan, awal mula tanah yang sekarang digarap oleh petani penggarap merupakan tanah para petani penggarap yang dipaksa untuk dijual ke PT Semen Gombong pada tahun 1995. Setelah masyarakat menjual semua tanahnya kepada PT Semen Gombong, kemudian dibuatlah perjanjian secara lisan bahwa masyarakat boleh menggarap lahan yang telah di kuasai oleh PT Semen Gombong sebelum lahan tersebut digempur.

“Berdasarkan perjanjian lisan tersebut akhirnya masyarakat menggarap lahan yang dikuasai oleh PT Semen Gombong hingga sekarang dengan teguh pada komitmen terus menerus melakukan penghijauan lahan,” ujar dia.

Selain itu, diperoleh kesepakatan lisan bahwa Petani Penggarap masih boleh menggarap lahan sampai musim tani berakhir atau 6 bulan setelah bulan ini yaitu sampai pada bulan Mei tahun 2020. Disebutkan, bahwa petani penggarap lahan yang dikuasai oleh PT Semen Gombong merupakan para petani di tiga desa yang mayoritas menyandarkan pendapatan harian dari hasil penggarapan lahan yang di kuasai oleh PT Semen Gombong.

Di akhir audiensi, Samtilar menilai Direktur PT Semen Gombong mengambil sikap yang tak kooperatif lantaran tidak berkenan membuat kesepakatan secara tertulis. Berdasarkan hal tersebut, kata Samtilar, terlihat jelas niat PT Semen Gombong tetap masih bersikukuh untuk menambang.

“Hal ini memperkuat asumsi bahwa tujuan utama PT Semen Gombong ingin memperkuat data lapangan guna mengajukan kembali Ijin Usaha Pertambangan (IUP). Karena dalam pengajuan IUP sekurang-kurangnya jangka waktu 3 tahun sebelum Hak Guna Bangunan (HGB) habis harus sudah memperpanjang dan tidak ada sengketa terhadap lahan tersebut,” ujar dia.

Sementara Direktur PT Semen Gombong, Muhammad Sunaryadi mengatakan, satu hal yang melatarbelakangi belum terwujudnya pembangunan adalah kondisi ekonomi global yang kian lesu serta kelebihan pasokan semen nasional menyebabkan ketidakpastian kelanjutan pembanguan pabrik.

Untuk mengatasi persoalan itu, maka PT Semen Gombong mengadakan program internal perusahaan yang bertujuan mendapatkan pendapatan guna pembiayaan operasional dan pengelolaan aset melalui program memanfaatkan lahan yang melibatkan masyarakat sekitar. “Karena pengeluaran biaya operasional setiap tahun yang semakin bertambah,” katanya.

Namun, pemberitahuan yang dilayangkan kepada warga tertanggal sejak 23 Oktober 2019, PT Semen Gombong meminta penghentian kegiatan petani karena berencana akan memanfaatkan aset yang dimiliki. “Mengingat akan adanya pemanfaatan aset, PT Semen Gombong meminta kepada petani penggarap lahan untuk mengehentikan kegiatan pengolahan lahan milik PT Semen Gombong,” ujar dia.(CR)