WARGA memperlihatkan karang hijau yang sedsng banyak bermunculan di pantai selatan Kebumen ,Rabu (4/12)

KEBUMEN, SATELITPOST-Tidak seperti biasanya, kali ini pantai pesisir selatan Kebumen sedang terjadi fenomena banyaknya bermunculan kerang hijau di bawah permukaan pasir pantai. Sontak hal tersebut menjadi perhatian sejumlah pihak, khususnya warga di sepanjang wilayah Urut Sewu.

 

Ahli Kelautan Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam LIPI Yogyakarta Prof Dwi Eni Djoko mengungkapkan, kerang merupakan hewan yang dapat hidup di suatu permukaaan seperti karang maupun batuan sekitar laut. Namun, menurutnya kemunculan kerang hijau di daratan pasir bukan tanpa sebab. Melainkan adanya dorongan gelombang besar yang melanda perairan setempat sehingga bergerak hingga bibir pantai. “Pasti ada kekuatan besar yang mendorong kerang bisa sampai ke pantai karena kerang itu hidupnya nempel di satu benda,” katanya, saat dihubungi SatelitPost, Rabu (4/12).

 

Disinggung mengenai potensi yang menyebabkan kebencanaan, dirinya tidak berani berspekulasi mengenai hal itu. Kendati demikian, menurutnya fenomena kemunculan kerang hijau merupakan fenomena tahunan karena berkaitan dengan adanya angin muson yang tengah berlangsung. “Biasanya muson ini terjadi Desember sampai Januari. Sekarang berarti sedang permulaan,” katanya.

 

Sementara seorang warga, Martidjo (45) yang sedang berada di Pantai Mliwis Desa Kenoyojayan Kecamatan Ambal terlihat tidak begitu sulit untuk mendapatkan kerang hijau. Cukup membenamkan tangan ke dalam pasir kemudian akan diperoleh kerang dengan cangkang berwarna hijau tua tersebut. “Keruk pakai tangan nanti terasa ada kerang. Persis seperti cari yutuk itu,” ujarnya.

 

Dirinya yang juga warga sekitar pantai mengungkapkan, kemunculan kerang sudah terjadi sejak sepekan terakhir. Atas fenomena ini, kata Martidjo, tidak sedikit warga yang sengaja datang ke pantai mencari kerang untuk dikonsumsi. “Kalau di sini disebut kece atau remis, masyarakat biasa mengonsumsi dengan dimasak atau direbus. Setiap tahun pasti ada, tetapi tidak sebanyak sekarang. Kalau ramai mencari biasanya pagi,” katanya.

 

Martidjo menyayangkan, kerang hijau saat ini baru sekadar untuk dikonsumsi saja tetapi tidak memiliki nilai ekonomi bagi warga sekitar. “Ya baru itu dimasak, memang belum bisa menjualnya ke mana dan yang berani beli dengan harga tinggi siapa kita belum tahu sejauh itu,” katanya. (CR)