Titin Hendiko, perempuan yang mengaku keponakan Kapolri.SATELITPOST/AMIN

PURBALINGGA, SATELITPOST–Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri (Kejari) Purbalingga, menuntut Titin Heniko alias Trias (42), terdakwa kasus penipuan perekrutan anggota Polri, empat tahun penjara. Sidang dengan agenda tuntutan itu dilaksanakan di Pengadilan Negeri (PN) Purbalingga, Senin (12/3). Sidang kali itu dipimpin Ketua Majelis Hakim Bagus Trenggono dengan anggota Ageng Priambodo Pamungkas dan Jeily Syahputra serta Panitera Pengganti (PP) Supriyanto.

Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang terdiri atas, Masmudi, M Nurachman Adikusumo dan David Soetrisno Marganda Simorangkir menyatakan terdakwa melanggar Pasal 378 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP jo Pasal 64 ayat 1 KUHP sebagai dakwaan primer dan Pasal 372 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP. Modus dalam mengelabui para korbannya. Terdakwa mengaku sebagai keponakan Kapolri Jenderal Titi Karnavian. “Karena itu kami minta kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa Titin Heniko selama empat tahun penjara,” kata Masmudi, kemarin.

Baca Juga: Ponakan Palsu Kapolri Tipu Banyak Orang di Purbalingga

Sementara itu, pada sidang terpisah dengan kasus yang sama, terdakwa lain yang terlibat, oknum polisi Andri dan Suriwani (Istri) warga Kecamatan Bukateja, dituntut hukuman penjara masing-masing tiga tahun penjara.

Titin yang merupakan warga Apartemen M Gold Tower Kamar 19 D Bekasi Barat, Jawa Barat ditangkap anggota Polres Purbalingga sejak beberapa bulan lalu. Kasus terebut mulai disidang pada Senin (22/1) lalu. Dia didakwa penipuan perekrutan calon anggota Polri dan PNS Ditjen Pajak. Adapun korban sebanyak tujuh orang dengan total kerugian mencapai Rp 1,9 miliar. Dalam kasus ini juga menyeret oknum anggota Polri dan istrinya.

Dalam berkas dakwaan disebutkan, Titin bertemu dengan para korban atas saran Suriwani, warga Kecamatan Bukateja dan suaminya, Andri yang ternyata adalah oknum anggota Polri. Awalnya terdakwa bertemu bertemu dengan keduanya pada Oktober 2016 dan mengaku keponakan Kapolri. Terdakwa mengaku mampu memasukkan orang menjadi anggota Polri dan pegawai Ditjen Pajak dengan memberikan uang Rp 180 juta.

Baca Juga: Sidang Ditunda Karena Keponakan Palsu Kapolri ini Melahirkan

Oleh Suriwani dan Andri, jumlah itu dinilai kecil karena pasarannya di Purbalingga mencapai Rp 370 juta. Akhirnya disepakati keduanya setor ke terdakwa Rp 180 juta, sisanya untuk dua orang itu. Setelah itu mereka beraksi mencari korban.

Selama setahun dari Oktober 2016 sampai Oktober 2017, ada tujuh korban. Ada yang setor Rp 180 juta, Rp 375 juta, Rp 468 juta, Rp 110 juta, Rp 396 juta, Rp 227 juta dan 155 juta. Jika ditotal mencapai Rp 1,9 miliar lebih. Para korban menyerahkan uang secara bertahap kepada terdakwa atau kepada Suriwani dan Andri. Saat kejadian, terdakwa berdomisili di Desa Candinata, Kecamatan Kutasari.

Karena anak para korban tidak ada yang diterima menjadi anggota Polri dan merasa tertipu, mereka lalu melaporkan ke Polres Purbalingga. Terdakwa ditangkap oleh polisi pada akhir Oktober 2017. (min)