RUMAH warga Desa Hanum Kecamatan Dayeuhluhur rusak berat tertimpa pohon tumbang pada Jumat pekan lalu.SATELITPOST/TASLIM INDRA

MAJENANG, SATELITPOST-Kerugian akibat bencana angin kencang pada Jumat (2/2) mencapai Rp 1,206 miliar. Diketahui, bencana angin kencang melanda sebagian daerah di Kecamatan Majenang, Dayeuhluhur, dan Wanareja, Kabupaten Cilacap. Imbasnya, ratusan pohon tumbang dan merusak rumah dan menimbulkan korban jiwa.

Kepala UPT Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Majenang Edi Sapto Priyono mengatakan pihaknya telah melakukan verifikasi data jumlah korban maupun dan kerusakan rumah  yang tertimpa pohon. Dalam verifikasi itu, pihaknya melibatkan berbagai unsur meliputi BPBD Kabupaten Cilacap, BPBD Majenang, Forkompimca wilayah setempat, kepala desa, dan relawan.

Pihaknya juga melakukan penanggulangan dan penanganan bersama dengan personel gabungan dari berbagai unsur untuk melakukan pembersihan dan evakuasi pohon yang tumbang. Kemudian menyalurkan bantuan logistik permakanan untuk melaksanakan kerja bakti dan bantuan bahan bangunan rumah (BBR) kepada warga yang rumahnya mengalami rusak.

“Verifikasi melibatkan berbagai unsur bantuan logistik permakanan sudah disalurkan di masing-masing kecamatan. Sedangkan BBR baru sebagian dan bertahap didistribusikan,”katanya.

Baca Juga: Cilacap Barat Porak Poranda

Dari hasil verifikasi jumlah total rumah yang mengalami kerusakan dampak bencana angin kencang sebanyak 197 rumah. Perinciannya, rumah roboh sebanyak 4 unit, rusak berat 16 unit, rusak sedang 26 unit, dan rusak ringan 151 unit.

Dia mengatakan, lebih rinci lagi di Desa Ujungbarang Kecamatan Majenang ada satu rumah rusak berat dan satu rumah rusak ringan. Di Desa Cibeunying Kecamatan Majenang ada satu rumah roboh, satu rumah rusak berat, dua rumah  rusak ringan. Di Desa Salebu ada satu rumah rusak berat, tiga rumah rusak ringan.

Di Desa Limbangan Kecamatan Wanareja ada satu rumah roboh, satu rumah rusak berat, 11 rumah rusak ringan. Di Desa Sidamulya Kecamatan Wanareja ada empat rumah rusak ringan.

Di Desa Hanum Kecamatan Dayeuluhur ada enam rumah rusak berat, tujuh  rumah rusak sedang, 54 rumah rusak ringan, lainnya atap ruang kelas SD Negeri Hanum dan atap ruang kantor Desa Hanum rusak terlepas.

Di Desa Datar Kecamatan Dayeuhluhur ada dua rumah roboh, enam rumah rusak berat, 19 rumah rusak sedang, 16  rumah rusak ringan, dan atap ruang SDN Datar rusak ringan.

Di Desa Sumpinghayu Kecamatan Dayeuhluhur ada empat rumah rusak sedang, 19 rumah rusak ringan. Di Desa Cilumping ada sembilan rumah rusak ringan. Di Desa Bolang ada  tiga rumah rusak sedang, sembilan rumah rusak ringan. Di Desa Bingkeng ada dua rumah rusak sedang, 17 rumah rusak ringan. “Satu korban meninggal dunia atas nama Ibu Darsih Dusun Singaraja 01/07 Desa Datar Kecamatan Dayeuhluhur. Dari musibah itu taksiran total kerugian Rp. 1.206.800.000,” kata Edi.

Edi menambahkan karena cuaca masih musim hujan masyarakat diimbau tetap waspada yang sewaktu-waktu hujan dimungkinkan disertai angin kencang. Kemudian untuk mengantisipasi pohon tumbang menimpa rumah diimbau agar masyarakat segera menebang pohon-pohon besar yang berada di dekat rumah.

Sementara, BPBD Kabupaten Cilacap terus mendistribusikan bantuan kepada warga yang terdampak angin kencang di Dayeuhluhur, Wanareja, dan Majenang. Bantuan yang didistribusikan berupa permakanan, bahan bangunan ringan dan juga peralatan makan dan family kit.

“Bantuan ini didistribusikan kepada warga yang rumahnya mengalami rusak berat,” ujar Kepala Pelaksana Harian BPBD Cilacap, Tri Komara Sidhy, Senin (5/2).

Bantuan ini sudah mulai didistribusikan sejak Jumat malam kemarin. Bahkan Ibu Tetty Suwarto Pamuji juga turut datang memberikan bantuan, kepada warga yang meninggal dunia akibat kejadian tersebut.

Bantuan logistik akan terus diberikan kepada warga yang terdampak, agar bisa meringankan beban mereka. Meskipun saat ini, kata dia, logistik BBR di BPBD sudah mulai menipis, karena belum adanya anggaran untuk pengadaan. “Kita berupaya maksimal dalam penanganan bencana, dan siap siaga,” ujarnya.

Tri Komara mengimbau kepada masyarakat agar tetap waspada dengan bencana yang masih bakal terjadi. Karena diperkirakan masih akan terjadi cuaca ekstrem pada Februari ini. Bahkan di Dayeuhluhur kemarin sampai terjadi angin kencang yang disertai dengan hujan es.

“Menurut prakiraan cuaca BMKG, untuk Cilacap dan sekitarnya masih ada cuaca ekstrem, sampai akhir Februari bahkan sampai Maret. Sehingga BPBD mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk selalu waspada dan siaga 24 jam,” katanya.

Untuk menghindari adanya korban jiwa, Tri Komara juga meminta agar masyarakat bisa melakukan evakuasi mandiri. Apabila turun hujan menghindari banjir dan longsor, dan selamatkan warga baik di rumah sendiri maupun tetangga. “Mudah-mudahan masyarakat bisa waspada, dan bisa melakukan evakuasi mandiri pada saat terjadi bencana,” ujarnya.

Sementara itu, terpisah Kepala Kelompok Teknisi Stasiun Meteorologi BMKG wilayah Cilacap, Teguh Wardoyo mengatakan hujan es biasanya terjadi masa musim transisi atau masa peralihan. Tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi pada saat musim hujan, seperti kemarin sempat terjadi di Dayeuhluhur.

Teguh mengatakan hujan es yang disertai angin kencang biasanya berasal dari jenis awan Cumulonimbus (CB) yang menjulang tinggi dengan puncak sekitar 12 km. Puncak awan Cb yang super dingin bisa mencapai -80 derajat celcius, dan dengan butiran es yang cukup besar.

“Butiran es yang cukup besar ini kemudian jatuh dan bergesekan dengan atmosfer ang hangat sehingga mencair. Namun karena ukuran butiran yang cukup besar maka tidak semuanya mencair. Sehingga sampai ke permukaan bumi masih berupa butiran es,” katanya.

Hujan es yang terjadi biasanya berkisar sekitar 3-5 menit atau bisa sampai 10 menit. Namun, hal tersebut sangat jarang terjadi. “Peristiwa ini biasanya sangat bersifat lokal dan tidak merata,” katanya.  (lim/ale)