PURWOKERTO, SATELITPOST-Di akhir bulan Agustus, rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-72 Republik Indonesia (RI) Komunitas Sedulur Seni melakukan pagelaran ebeg ‘Mendem Merdeka’. Kritik pada kemerdekaan yang jangan sampai membuat mendem dan gila bangsa yang menikmatinya.

Pertunjukan ebeg tersebut diikuti sebanyak 20 grup ebeg dari Kabupaten Banyumas dan tiga grup dari Cilacap, di Lapangan Kelurahan Kedungwuluh, Kecamatan Purwokerto Barat, Kamis (31/8) siang.

Seorang pegiat Komunitas Sedulur Seni, Agus Juwondo mengatakan, ide pentas bersama itu tercetus melalui grup di jejaring sosial Facebook. Pihaknya mengajak komunitas atau grup ebeg untuk bersama-sama merefleksikan kemerdekaan agar jangan sampai membuat penikmatnya semakin tidak bertanggung jawab, gila menghancurkan negerinya sendiri.

“Ide tersebut justru muncul dari komunitas di luar ‘ebeg’ dan ternyata mendapat sambutan positif sehingga kegiatan ini dapat terselenggara,” kata dia.

Dia berharap, pertunjukan seperti itu dapat terus diselenggarakan secara rutin. Adapun tema yang diambil, menurutnya karena bertepatan dengan momentum HUT ke-72 Kemerdekaan RI. “Tema kegiatan berikutnya tergantung pada momentumnya dalam rangka apa,” kata Agus Juwondo.

Sementara itu, Ketua Bidang Hubungan Antarlembaga Paguyuban Masyarakat Kuda Lumping Indonesia (PMKLI) Bambang Barata Aji mengatakan, tema ‘Mendem Merdeka’ mengandung pesan agar dalam mengisi kemerdekaan tidak seenaknya sendiri. Istilah mendem dalam ebeg adalah perilaku yang seenaknya sendiri.

“Oleh karena itu, komunitas ebeg ingin mengingatkan agar jangan seperti itu (seenaknya sendiri, red) dalam mengisi kemerdekaan,” kata dia.

Dia mengatakan pertunjukan itu merupakan wujud dari semangat gotong royong karena pesertanya datang dari berbagai daerah dengan biaya sendiri. Menurutnya, para seniman ebeg itu telah menunjukkan nasionalismenya dengan cara mereka sendiri karena bentuk ekspresi dalam kesenian tradisional merupakan bentuk yang jujur.

Pada komunitas atau grup ebeg saat ini masih banyak dijumpai generasi muda, terutama perempuan. Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa anak-anak muda antusias untuk terlibat dalam kesenian tradisional.(kim)