WARDANI, S.PD Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 1 Punggelan

Oleh Septi Ratna Wardani, S.Pd

Guru Bahasa Jawa SMP Negeri 1 Punggelan

Perkembangan teknologi yang semakin pesat, memudahkan masyarakat baik tua maupun muda memperoleh beragam informasi melalui berbagai sumber dengan menggunakan bermaca-macam sarana.

Kita ketahui bersama, bahwa saat ini semua kalangan masyarakat  dapat mengakses informasi dengan mudah melalui berbagai media baik online maupun media cetak. Bahkan dengan kemajuan teknologi tersebut, kita dapat mengakses informasi dari genggaman tangan kita.

Seperti dua sisi mata uang, kemudahan ini tentunya memiliki banyak pengaruh positif maupun negatif terhadap perubahan pada era modern ini. Salah satu contoh adalah semakin meningkatnya akulturasi budaya Barat dengan Timur yang pada suatu keadaan tertentu dinilai kurang sesuai dengan agama dan budaya kita.

Perubahan-perubahan akibat adanya perkembangan teknologi yang terjadi, juga bisa menjadi pemicu semakin menipisnya sikap-sikap luhur yang telah dimiliki masyarakat Indonesia sejak jaman dahulu. Satu di antaranya adalah budi pekerti.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, budi pekerti adalah tingkah laku, akhlak, perangai dan watak. Selain itu, budi pekerti juga dapat diasosiasikan dengan moral, etika, akhlak mulia, tata krama, dan sopan santun.

Budi pekerti merupakan sebuah sikap positif yang mencakup tindakan sopan santun yang dapat diperoleh dari kebiasaan yang dilakukan sejak kecil. Oleh karena itu, pendidikan budi pekerti sejak dini sangat penting karena dalam pendidikan budi pekerti memiliki  tujuan yang baik yaitu untuk mencegah kejadian-kejadian yang sifatnya negatif, berusaha menanamkan sejak dini nilai-nilai norma yang mulai berkurang dan juga untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat lewat pemahaman pendidikan budi pekerti.

Budi pekerti memiliki beberapa contoh nyata yang dapat ditunjukkan melalui sikap yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari oleh seorang individu di masyarakat. Beberapa contoh budi pekerti yang biasanya ada di masyarakat antara lain adalah (1) bicara dengan sopan. Orang yang memiliki budi pekerti pasti pada saat berbicara seseorang tersebut akan berbicara dengan sopan santun dan tutur kata yang santun dan lembut. Gaya bicara dan penuturan yang diucapkan juga menggunakan intonasi yang tidak tinggi serta tidak melibatkan emosi yang berlebihan. Menghormati orang lain baik yang lebih muda usianya dan terlebih lagi kepada orang lain yang lebih tua.

(2) Sikap rendah hati. Sikap yang rendah hati ditunjukkan  dalam tindakan maupun perilaku yang tercermin melalui perbuatan antara individu dengan orang lain baik suatu kelompok maupun masyarakat. Contoh sikap rendah hati adalah ketika seorang siswa menjadi juara sekolah dan tidak menyombongkan kepintarannya dalam hal tersebut, maka seseorang tersebut dapat dikatakan memiliki budi pekerti yang baik.

Sebagai salah satu sikap positif, budi pekerti memiliki beberapa fungsi yang sangat penting dalam kehidupan kita karena dapat memberikan keseimbangan dan keharmonisan dalam hidup bermasyarakat dan juga sebagai identitas dan budaya suatu bangsa yang diharapkan  akan terbentuk dalam benak setiap orang serta dengan sendirinya akan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Atau dapat juga dikatakan bahwa budi pekerti sebagai landasan berperilaku di masyarakat.

Oleh karenanya memang benar apabila budi pekerti harus diajarkan sejak dini kepada anak karena dapat mendorong kebiasaan berperilaku anak tersebut supaya memiliki moral dan etika yang baik. Budi pekerti anak dapat diajarkan melalui keteladanan, pola hidup sederhana, kegiatan spontan seperti sebuah tindakan sebab-akibat yang dilakukan pada saat itu juga misalnya peringatan tentang kesalahan yang dilakukan berupa teguran, sanksi atau sikap saling memaafkan. Memberi reward kepada seseorang yang telah melakukan kebaikan. Selain itu budi pekerti juga dapat diajarkan melalui kegiatan yang dilakukan secara rutin.

Karena budi pekerti merupakan sebuah kebiasaan yang diperoleh sejak kecil maka hendaknya budi pekerti yang diajarkan di keluarga mengajarkan tentang norma dan moral yang dapat diterima dan dinilai baik di masyarakat. Sebagai contoh adalah ajaran untuk saling berbagi kepada satu sama lain dan tidak berebutan serta mau mengalah (berbagi makanan kepada kakak/adik/saudara), saling memaafkan, dan lain sebagainya.

Sedangkan menurut budi pekerti orang Jawa, hal-hal yang biasa dilakukan misalnya adalah berperilaku sesuai dengan tata krama dalam kehidupan sehari-hari mulai dari kita bangun tidur hingga tidur lagi. Contohnya bersikap halus dan sopan, menggunakan bahasa halus (krama alus) ketika berbicara kepada orang yang lebih tua atau yang lebih dihormati, memahami dan mengajarkan kearifan serta pepatah Jawa, misalnya suatu hal yang dianggap ‘ora ilok‘ (Jawa : tidak baik) maka hal tersebut harus dipatuhi. Misalnya ora ilok makan sambil berdiri, ora ilok makan sambal berbicara, ora ilok duduk di pintu, selalu menerapkan istilah  ajining dhiri saka lathi, ajining raga saka busana, ajining awak saka tumindak dan hal-hal yang lainnya.

Aturan-aturan Jawa tersebut, sebenarnya memberikan kearifan-kearifan lokal yang mengajarkan tentang moral dan budi pekerti yang baik.

Seperti yang sudah dituliskan di atas bahwa budi pekerti adalah sebuah nilai luhur yang dimiliki seseorang karena kebiasaan yang diterapkan sejak dahulu dan mengakar menjadi sesuatu yang dilakukan sehari-hari. Maka seseorang yang memiliki budi pekerti, tentunya akan memiliki moral yang baik yang kemudian dapat diwujudkan menjadi sebuah etika yang baik. Namun saat ini, nilai-nilai luhur remaja terasa berkurang. Sebagian besar remaja tengah berada dalam masa transisi, sehingga melakukan banyak pemberontakan yang membuat nilai-nilai etika diabaikan dan tidak lagi diamalkan.

Oleh karena itu melihat pentingnya budi pekerti dalam kehidupan kita  maka budi pekerti selain harus ditanamkan sejak kita kecil tetapi juga harus selalu ada dalam setiap aliran darah dan hembusan nafas kita, yang setiap saat kita gunakan dalam kehidupan baik dalam kondisi sehat maupun sakit dalam keadaan sedih mauapun bahagia. Terlebih  untuk kaum remaja, karena dengan budi pekerti dapat meningkatkan nilai diri melalui penanaman nilai-nilai moralitas. Selain itu, remaja juga dapat mulai belajar untuk bersikap secara lebih baik dan sopan. Apabila hal ini sudah bisa diterapkan, tentunya budi pekerti tidak hanya sebagai pencitraan semata yang fungsinya sebagai pemanis raga. Namun lebih dari itu, diharapkan di era modern ini budi pekerti bisa menjadi gaya hidup dan bagian dari hidup kita agar tercipta manusia yang berbudi luhur. (*)