Saat ini, perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara pasca reformasi sedang mengalami ujian. Kondisi tersebut ditunjukkan oleh ekspresi masyarakat yang belum merasakan dampak positif dari harapan dan cita-cita diawal yang digaungka. Alih-alih mengobati kelemahan orde baru, namun kenyataannya langkah reformasi malah mangalami buram dalam melihat visi ke depan. Bagaimana tidak, ujian tersebut mulai terlihat manakala pelaksanaan kontestasi pemilihan umum (pemilu) presiden dan wakil presiden (eksekutif), euforia pesta demokrasi tersebut sekaligus memberikan dampak pembelahan politik dalam tubuh masyarakat yang diiringi dengan munculnya polusi kebencian dan nada perpecahan.

Kini, seusai sengketa dalam pemilu dapat diredam, letupan-letupan konflik politik dan sosial mulai terdengar kembali, hal ini ditengarai akibat dari lahirnya produk aturan yang disahkan oleh lembaga negara yang tidak sesuai dengan aspirasi dan kehendak masyarakat, kondisi ini tentu saja tidak ideal bagi negara yang menganut sistem demokrasi yang mestinya mengedepankan partisipasi warga negara sebagai salah satu sumber kunci dan keutamaan sentral.

Pada dasarnya, Hardiman (2013) mengidentifikasi bahwa salah satu harapan besar setelah tumbangnya orde baru dan kemudian memasuki era reformasi adalah mengawasi perilaku pemerintah untuk tidak lagi memegang monopoli dalam memberi arah perkembangan masyarakat, maka arah itu tidak ditentukan oleh pemerintah, melainkan oleh demokrasi itu sendiri. Kemudian juga semangat mengembalikan kebebasan dan kesetaraan. Rakyat dapat menentukan arah bagi dirinya yang secara substansial bisa berisi apapun, tanpa kualifikasi etnis, finansial atau bahkan tidak memiliki keunggulan moral. Karena menyangkut kehendak sejumlah besar orang dan kelompok yang berbeda-beda, tidak ada kondisi politis yang lebih tidak pasti daripada pemerintahan oleh yang diperintah.

Inilah babak baru di era kebebasan mengekspresikan pendapat, yang kembali ditunjukkan oleh para pemuda yang diwakili para mahasiswa sebagai representasi rakyat atau penyambung aspirasi ketika wakil rakyat dianggap tidak lagi memihak pada rakyat, maka kemudian mahasiswa di seluruh wilayah nusantara turun dan bergerak untuk menyuarakan nada-nada sumbangnya di jalanan sebagai bentuk perlawanan terhadap ketidakadilan.

Mahasiswa Melawan

Pergerakan mahasiswa dalam mengawal dan mengkritisi kebijakan pemerintah sejatinya telah menjadi tradisi yang kuat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sekurang-kurangnya menurut Colin Brown (2003) ada tiga kali gerakan mahasiswa membantu perubahan kekuasaan, yaitu dimasa awal republik pada tahun 1945 sebagai gerakan kemerdekaan, tahun 1965-1966 dengan menggulingkan orde lama dan di tahun 1997-1998 dengan menumbangkan rezim orde baru.

Pandangan tersebut menggambarkan bahwa begitu besarnya peranan intelektualitas mahasiswa dalam melawan ketidakadilan. Bahkan momuntem perjuangan tersebut sudah dimulai pada masa pra kemerdekaan. Penindasan pemerintah Hindia Belanda terhadap rakyat telah menjadi momuntem awal perjuangan narasi nalar kritis mahasiswa Indonesia. Sebagaimana Hatta (1997) menggambarkan bahwa pada masa pra kemerdekaan, rakyat kita hanya merasa tetapi tidak pandai berkata di bawah penindasan imperialisme dan kapitalisme kolonial, dan petani pandangannya tidak lebih luas dari batas sawah yang dikerjakannya, maka pemuda Indonesialah yang belajar pada Sekolah Dokter di Jakarta yang maju ke muka dan memberi dorongan kepada reveil nasional. Dan kemudian, kejadian ini dikenal dengan momen Kebangkitan Nasional melalui pergerakan organisasi yang bernama Budi Utomo yang lahir pada tahun 1908. Organisasi ini merupakan embrio dari pergerakan mahasiswa, meskipun terbatas geraknya hingga kaum priyayi dan bangsawan Jawa saja, lahirnya ke dunia tidak sedikit membimbangkan perasaan Belanda kolonial.

Setelah mahasiswa mempelopori lahirnya organisasi Budi Utomo, kemudian muncullah gerakan-gerakan perjuangan berikutnya dalam bentuk organisasi sosial maupun politik dengan tujuan mengantarkan kemerdekaan bagi bangsa. Awalnya pergerakan perjuangan yang dilakukan mahasiswa lebih didominasi di wilayah Jawa saja, namun semangat perjuangan kemudian menyebar ke wilayah lainnya dan mengantarkan para mahasiswa untuk menjalin komunikasi dalam rangka membangun tujuan yang satu. Momentum bersatu dalam keberagaman ini kemudian diwujudkan dalam kongres pada tahun 1928 yang dikenal dengan Sumpah Pemuda. Pergerakan ini berupaya untuk menggabungkan semangat persatuan yang bersifat kedaerahan, seperti Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Ambon, Jong Celebes dan lain-lain, bergabung menjadi satu Pemuda Indonesia, dengan mengambil suatu keputusan bersejarah yang menentukan bentuk Indonesia untuk masa mendatang. Dalam kongres tersebut diikrarkan tekad mereka, bahwa pemuda Indonesia hanya: 1) Berbangsa satu; Bangsa Indonesia, 2) Bertanah air satu; Tanah Air Indonesia dan 3) Berbahasa persatuan satu; Bahasa Indonesia. Pada saat itu diambil pula keputusan, bahwa lagu Indonesia Raya yang dikarang oleh W.R Soepratman menjadi lagu kebangsaan.

Sampai pada akhirnya kemerdekaan dapat diraih oleh bangsa Indonesia. Pada saat sebelum dan sesudah memproklamasikan kemerdekaan, peranan mahasiswa begitupun pelajar tidak dapat dianggap kecil, pelajar dan mahasiswa mengetahui tugasnya dan memberikan jasa yang tak ternilai kepada rakyat dalam memperjuangkan dan menegakkan Indonesia Merdeka.

Perjuangan pergerakan mahasiswa kemudian berlanjut pada masa pemerintahan dipimpin oleh Ir. Soekarno (masa Orde Lama) antara tahun 1965-1966, dengan aksinya yang hebat dan mengagumkan mereka menuntut supaya negara dibebaskan dari ideologi yang datang dari utara, supaya amanat penderitaan rakyat benar-benar dilaksanakan dan konsekuen kepada Undang-Undang Dasar 1945. Aksi ini berdampak pada berakhirnya kekuasaan masa orde lama.

Pergantian kekuasaan dari orde lama menuju orde baru yang dipimpin oleh Soeharto merupakan harapan baru bagi rakyat Indonesia. Pemerintahan ini dalam menjalankan kekuasaannya relatif cukup lama yakni kurang lebih selama 32 tahun. Namun tepat pada tahun 1998 kelompok-kelompok masyarakat berhasil menggulingkan presiden Soeharto, yang dimotori oleh gerakan-gerakan mahasiswa yang memainkan peranan sentral untuk perubahan politis. Bahkan pada saat itu mahasiswa berhasil menguasai gedung parlemen (DPR/MPR). Menurut Hardiman Aksi duduk di atas gedung DPR/MPR mengingatkan kita pada para demostran yang membawa spanduk bertuliskan “Wir sind das Volk” (kamilah rakyat) dan meruntuhkan tembok Berlin di tahun 1989, karena mereka juga menegaskan di hadapan suatu rezim bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat.

Pada pekan terakhir ini, Indonesia kembali diwarnai oleh aksi mahasiswa. Demonstrasi terjadi di seluruh wilayah nusantara, khususnya di kota-kota besar. Tujuan mereka adalah tuntutan atas ketidaksetujuannya terhadap Rancangan Undang-undang yang dibahas lembaga legislatif dan eksekutif (RUU KPK dan RKUHP) yang disinyalir tuai pasal-pasal kontroversial. Mosi tidak percaya diekspresikan secara verbal oleh mahasiswa pada saat rapat dengan DPR, kondisi ini memunculkan letusan gerakan aksi turun ke jalan dalam mengekspresikan narasinya. Bahkan melibatkan para pelajar yang tergabung dalam STM yang juga ikut serta dalam kegiatan aksi tersebut. Kendati aksi mereka terbilang anarkis, tapi apresiasi datang dari beberapa lapisan masyarakat dan mahasiswa.

Pada dasarnya, aksi itu terjadi karena disahkannya secara sepihak RUU KPK dan dianggap melemahkan agenda pemberantasan korupsi. Padahal, salah satu harapan besar setelah tumbangnya orde baru adalah lahirnya lembaga independen sebagai bentuk perjuangan melawan korupsi, hari ini justru upaya tersebut mulai diusik oleh para pemangku kewenangan dengan cara melemahkannya melalui instrumen-instrumen aturan yang disahkan. Jika pada saat pemilu, rakyat mengalami pembelahan, namun kini ketika lembaga anti rasuah diusik, tanpa kompromi rakyat dengan sendirinya bersatu dan diwujudkan oleh gerakan mahasiswa melalui aksi demonstrasi.

Sangat menarik bila melihat geliat mahasiswa dalam memperjuangkan aspirasi rakyat dari masa ke masa, bahkan Hatta pernah memberikan pertanyaan, apa sebab pemuda mahasiswa sewaktu-waktu melakukan peranan yang begitu penting dalam perkembangan politik dan haluan negara? Apa sebab pemuda sering mendahului orang-orang tua yang sudah matang dalam politik?. Kemudian Hatta menjawab sendiri pertanyaannya. Pertama, pemuda masih murni jiwanya dan ingin melihat pelaksanaan secara jujur apa-apa yang telah dijanjikan kepada rakyat. Pandangan politiknya terbatas kepada cara melaksanakan tujuan itu, yang sudah tertanam dalam Undang-Undang Dasar. Kedua, mahasiswa pada universitas dididik berpikir secara ilmiah, dan ilmu tujuannya mencasi kebenaran. Membela kebenaran menjadi tugas utama bagi orang yang menuntut ilmu. Pikiran yang diasah semacam itu bersikap kritis terhadap realita dan perbuatan yang bertentangan dengan kebenaran.

Sejatinya gerakan mahasiswa senantiasa menjadi momok bagi pemerintah yang tidak punya itikad baik dalam menjalankan kekuasaanya, karena memang dari masa ke masa mahasiswa senantiasa berada di barisan yang paling depan dalam meruntuhkan kedzoliman setiap rezim yang dianggap lebih mengutamakan keuntungan pribadi dan kelompoknya. Seluruh bentuk gerakan perjuangan mahasiswa dalam membela nasib rakyat yang tertindas patut diapresiasi, tidak sedikit jerih dan korban dalam proses perjuangan tersebut, bahkan nyawa senantiasa menjadi taruhannya. Maka Hatta  mengatakan bahwa, “mahasiswa itu akal dan hati dari masyarakat”. Setiap gerakan mahasiswa muncul, menghidupkan kembali tradisi lama yang mengharumkan nama pemuda dalam sejarah nasional Indonesia.(*)