NYI UPIK sedang menunjukkan abon sapi buatannya di rumah produksi yang berada di Desa Pamijen Kecamatan Sokaraja.SATELITPOST/TRIONO YULIANTO

Usia yang tak lagi muda, tidak menghalangi seorang Puji Prihatini untuk terus berkarya mengembangkan bisnisnya di bidang kuliner. Pensiunan PNS yang akrab dipanggil Nyi Upik ini, terus mengembangkan bisnis produksi abon sapi berkualitas dengan brand namanya sendiri.

“Sejak kecil, saya suka abon buatan ibu karena lain dengan yang biasa dijual di toko-toko. Dagingnya lebih terasa, karena dipilih dari daging berkualitas super bagian gandik (paha). Seratnya halus tapi kesat, jadi kalau dimakan dagingnya sangat berasa,” kata mantan ‎Kepala Bidang Kominfo, Kabupaten Banyumas ini.

Nyi Upik menekuni pembuatan abon sapi, karena termasuk makanan yang sangat familiar di lidah orang Indonesia. Sudah sejak lama, abon sapi dijadikan lauk pendamping yang praktis dan tentu saja enak.

Kepraktisan dalam penyajiannya, membuat abon bisa dikombinasikan dengan berbagai olahan seperti lemper, topping roti, taburan nasi goreng, dan masih banyak lagi.

‎Usahanya bermula dari dorongan teman-temannya yang sempat berkunjung ke rumahnya beberapa waktu silam. Saat itu, Nyi Upik menjamu tamunya dengan abon buatannya. Ternyata, abon racikannya membuat teman-temannya berdecak kagum dengan rasanya.

“Saya merespon testimoni itu dengan mencoba memproduksinya secara terbatas, hanya untuk kalangan teman dan kolega saja. Tapi ternyata di luar dugaan, banyak yang minta dikirimi ulang dengan menanyakan harganya karena mereka bilang enaknya kebangetan,” katanya.

Testimoni itu yang akhirnya dijadikan slogan produk abon sapi Nyi Upik yang enaknya kebangetan ini.

Dia mulai memproduksi abon sapi dalam skala lumayan besar, ‎pada pertengahan tahun lalu. Sebelum melempar produknya ke pasaran, Nyi Upik juga langsung mengurus semua persyaratan perizinan usaha makanan olahan. Mulai dari pendaftaran brand, desain dan bentuk kemasan, hingga legalitas lain dari Dinas Kesehatan.

Abon Nyi Upik juga dikemas dengan dua lapisan menggunakan aluminium foil dalam dus khusus.

“Untuk kemasan 50 gram, kami memnjualnya dengan harga Rp 25 ribu,” ujarnya.

Hingga kini, ada empat varian rasa abon yang dibuat di rumah produksinya di Jalan Tentara Pelajar Imam, Desa Pamijen Kecamatan Sokaraja ini. Selain rasa original cenderung manis dan gurih, ada juga abon sapi spicy dengan tiga tingkat kepedasan meliputi level 3 rasa gurih sedikit pedas, level 5 pedas sedang dan level 7 sangat pedas.

Dengan proses pembuatan dan penggunaan bahan yang berkualitas, menjadikan abon buatan istri Suryo Banendro ini memiliki masa kedaluwarsa hingga delapan bulan.

“Semua bumbu alami, tanpa bahan tambahan apapun karena produk ini harus menjadi produk olahan berkelas, higienis, dan praktis,” katanya.

Selain melalui jalur pertemanan, Abon Nyi Upik juga sudah berhasil menembus pasar melalui beberapa e-commerce seperti bukalapak, tokopedia dan shopee. Dia juga masih terus mendistribusikan abon buatannya melalui beberapa jejaring media sosial dan even pameran.

“Kami bukan sekedar mengembangkan usaha, tapi juga berusaha membuka lapangan kerja. Dan yang pasti, kami juga menyisihkan Rp 500 dari setiap kemasan untuk kegiatan sosial. Artinya, setiap membeli satu kemasan Abon Nyi Upik, pembeli sudah ikut bersedekah,” katanya.

Nyi Upik memimpikan, ke depan kota Purwokerto tidak hanya dikenal dengan getuk goreng dan kripik tempenya saja, tetapi juga abon buatannya. Untuk layanan konsumen, pelanggan bisa mengaksesnya melalui media sosial facebook Abon Nyi Upik dan Instagram @abonnyiupik. (rare@satelitpost.com)