Operasi Pasar Elpiji Sepi Pembeli

Menepis Isu Kelangkaan

PURBALINGGA, SATELITPOST-Operasi pasar Elpiji 3 Kilogram yang dilakukan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan gas (Hiswana Migas) Purbalingga di Kecamatan Karangmoncol, sepi peminat.

Hendy Setyo Mulyo, Koordinator Agen Gas Elpiji 3 Kilogram Kabupaten Purbalingga, DPC Hiswana Migas Banyumas mengatakan, operasi pasar itu merupakan respon atas isu kelangkaan gas Elpiji 3 kg.

Berdasarkan informasi yang diterima, masyarakat kesulitan mendapatkan gas. Selain bentuk pelayanan, kegiatan tersebut menjadi kesempatan mengecek kebenaran kabar tersebut.

“Operasi pasar sudah dilakukan beberapa kali di beberapa wilayah. Tapi tidak banyak warga yang memburu, di Karangmoncol bahkan sudah dua kali,” kata dia, kemarin (15/9).

Sebelumnya, Hiswana Migas menggelar tiga kali operasi pasar di Kecamatan Rembang. Masing-masing di halaman kantor kecamatan hanya terjual 81 tabung, di Desa Losari terjual 90 tabung dan di Bodas terjual 125 tabung.

Kemudian dua kali di wilayah Kecamatan Karangreja, yakni di halaman kantor kecamatan dan di Desa Kutabawa yang masing-masing terjual 200 dan 157 tabung. Sedangkan di Kecamatan Karangmoncol, sudah dilakukan di Desa Pekiringan terjual 144 tabung, dan di halaman kantor kecamatan terjual 66 tabung.

“Paling banyak terjual 200 tabung dan itu menjadi bukti bahwa tidak ada kelangkaan. Logikanya, kalau memang masyarakat kesulitan mendapatkan di pengecer pasti bakal menyerbu operasi pasar,” ujarnya.

Kegiatan tersebut masih akan dilakukan dua kali lagi. Hiswana Migas menyiapkan kuota 3.360 tabung.

“Di operasi pasar tabung 3 kg dijual Rp 15.500, sama dengan harga di pangkalan,” katanya.

Di wilayah Purbalingga terdapat tujuh agen dan 1.244 pangkalan. Setiap bulan, Purbalingga mendapat jatah distribusi sekitar 603.200 tabung.

“Kalau dirata-rata, setiap hari kebutuhan gas di Purbalingga mencapai 23.200 tabung,” katanya.

Sugiarto, warga Karangmoncol, mengaku sempat terpaksa menggunakan kayu bakar saat tabung gas Elpiji 3 kilogram sulit didapatkan. Karena itu, dia berharap operasi pasar bisa dilakukan secara rutin.

Hal senada disampaikan Tati, warga Karangmoncol lainnya. Dia mengaku senang dengan kegiatan operasi pasar, karena bisa membeli gas dengan harga yang lebih murah dibanding pengecer. “Kalau beli di pengecer harganya Rp 20 ribu. Dengan operasi pasar lumayan selisihnya,” ujarnya.(aminbellet@gmail.com)