Pemajuan Kebudayaan Khas Purbalingga Terkendala

PURBALINGGA, SATELITPOST-Penyusunan Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) yang bertujuan untuk mendeteksi kebudayaan khas daerah, terganjal SK bupati yang tak kunjung turun.

Kepala Seksi (Kasi) Kesenian dan Nilai Tradisi pada Dindikbud Kabupaten Purbalingga, Rien Anggraeni menyampaikan, PPKD dikirimkan ke Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Penyusunan PPKD tersebut, mengacu pada Undang-Undang (UU) Nomor 5 Tahun 2017 tentang Kemajuan Kebudayaan. Nantinya, setelah pokok-pokok pikiran terbentuk, akan dibentuk strategi kebudayaan nasional.

“Tim ini nantinya bertugas menyusun PPKD untuk kemudian dikirim ke Kemendikbud melalui aplikasi,” kata Rien Angraeni, kemarin (9/8).

Saat ini, borang-borang sudah tersusun dan di Purbalingga setidaknya ada sekitar 60 data yang sudah terkumpul. Hanya saja untuk masuk ke aplikasinya, belum berhasil karena terkendala SK bupati terkait Tim PPKD.

“Untuk bisa terkirim, kita harus mempunyai SK bupati yang masih dalam proses pembuatan. Sesuai edaran Ditjen Kebudayaan, paling akhir tanggal 20 Agustus harus sudah  selesai,” ujarnya.

Berdasar UU No 5 Tahun 2017, terdapat sebelas objek kebudayaan yang meliputi manuskrip, naskah kuno, permainan tradisional, adat istiadat, bahasa, ritus, kesenian, film, olahraga tradisional, permainan rakyat, dan cagar budaya.

Masing-masing daerah, harus mengirimkan data tersebut termasuk upaya pelestariannya. Harapannya, Purbalingga mempunyai satu kebudayaan khas yang nantinya dapat muncul di tingkat nasional.

“Apakah di Purbalingga masih ada adat istiadat yang masih berkembang, itu semuanya akan dimasukkan dalam bentuk borang yang berisi objek kemajuan kebudayaan yang diuraikan,” kata Rien.

Anggota Tim PPKD, Anita Ika Cahyani mengatakan, kesebelas objek kemajuan kebudayaan daerah ada di Purbalingga. Tetapi dalam penyusunannya terkendala pada objek kebudayaan yang masih benar-benar tradisional dan sudah tidak dilestarikan di wilayahnya masing-masing.

“Seperti halnya manuskrip, ini cukup susah untuk mengumpulkannya karena kebanyakan untuk membukanya butuh ritual. Ada yang tidak bisa sembarang orang melihat atau menyalinnya,” kata Nita. (min)