UMAT Kristiani menampilkan drama penyaliban Yesus di Gereja Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto, Jumat (30/3).SATELITPOST/ANANG

TERDENGAR teriakan beberapa orang berpakaian ala orang-orang Yahudi di depan pintu Gereja Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto, Jumat (30/3) pagi. Di depannya prajurit Romawi mengawal seseorang berpakaian putih penuh darah yang memanggul salib.

Adegan drama penyaliban Yesus ini menjadi pemandangan yang mengerikan. Ratusan umat yang hadir pun tak mampu menahan tangis saat melihat Yesus disiksa dengan cambuk. Yesus yang memanggul salib di dalam gereja tiga kali terjatuh. Seorang petani bernama Simon pun diminta untuk membantunya. Hingga adegan berakhir saat dia wafat di kayu salib.

Koordinator drama, Frater Yusup Widiarko mengatakan, untuk tahun ini, drama penyaliban atau tablo digelar dengan gaya Romawi. Tak seperti biasanya, arak-arakan tak lagi digelar di luar gereja. “Kali ini kami ingin umat merenungi kisah sengsara Yesus. Dengan iringan musik yang membawa suasana dan emosi ikut merasakan peristiwa tersebut,” katanya.

Dia mengatakan, pada tablo bertema “Solidaritas: Salib-Mu adalah Salibku” ini umat diajak untuk belajar rasa solidaritas dari sosok Simon dari Kirene yang membantu Yesus memanggul salib. Sebab, kesetiakawanan bukan sekadar rasa haru atau tangisan, melainkan tindakan nyata untuk ikut meringankan beban orang yang sedang menderita. Drama teaterikal ini diperankan oleh muda-mudi Katolik Katedral Kristus Raja. Mereka memerankan tokoh Yesus, Maria, para Rasul, hingga Pontius Pilatus.

Sementara itu, pemeran Yesus, Redemptus Syantika Anobey mengaku ikut terbawa suasana saat memerankan Yesus. Dia ikut menangis ketika menjalani adegan disiksa oleh para prajurit. “Tadi saya sempat menangis. Ternyata begini rasanya disiksa meski tidak bersalah. Rasanya juga sakit waktu dicambuk,” katanya. (ank)