PLT Bupati Purbalingga menyaksikan penandatanganan kerjasama bisnis pada acara Pameran Otonomi Daerah Tahun 2018, Tangerang, kemarin.
PLT Bupati Purbalingga menyaksikan penandatanganan kerjasama bisnis pada acara Pameran Otonomi Daerah Tahun 2018, Tangerang, kemarin.

Sejumlah kesepakatan bisnis dicapai melalui Pameran Otonomi Daerah Tahun 2018 di Tangerang. Selain bulu mata, produk gula kristal Purbalingga juga mendapatkan perhartian dari perusahaan yang siap melakukan ekspor.

Jumat (6/7/2018), masing-masing perusahaan telah melakukan penandatanganan kontrak kerja sama kesepakatan bisnis. Untuk bulu mata, kerja sama dilakukan oleh CV Aditya sebagai produsen dan PT Mandala Swalayan sebagai pembeli, dengan nilai kontrak sebesar Rp 120 juta. Sedangkan untuk produk gula kristal kerja sama dilakukan anatara UD Saudara sebagai produsen dengan PT Integral Mulia Cipta sebagai pembeli, nilai kontraknya sebanyak 13 ton per bulan.

Plt Bupati Purbalingga, Dyah Hayuning Pratiwi, yang turut hadir dan menyaksikan penandatangan itu menyampaikan, penandatanganan kontrak dilaksanakan di stand pameran Kabupaten Purbalingga, Indonesia Convention Exhibition (ICE), Bumi Serpong Damai (BSD) Tanggerang. Adanya kerja sama tersebut, diharapkan para petani penderes bisa mengambil manfaatnya yakni meningkatkan kesejahteraan para petani penderes. Dengan menjual gula kristal maka akan menambah nilai jual gula yang dihasilkan oleh para petani penderes.

“Dengan nilai kontrak sebesar 13 ton per bulan nanti diharapkan para petani penderes sekitar Desa Kangean, Kecamatan Kertanegara, bisa diberdayakan untuk membuat gula kristal yang secara ekonomi lebih baik dibanding gula jawa biasa,” Kata Tiwi, Jumat (6/7).

Lebih lanjut Tiwi mengatakan, adanya kerja sama ini, pemkab tentu tidak lepas tangan. Pihaknya akan memfasilitasi sertifikat organik terhadap produk gula kelapa. Dengan adanya sertifikasi organik diharapkan dapat meningkatkan nilai jual produk gula kelapa Purbalingga.

Sementara itu, direktur utama PT Integral Mulia  Cipta, Mario Ngensowijaya mengatakan dengan adanya kerja sama ini petani bisa diuntungkan terkait dengan pasar yang belum dikuasai oleh mereka. Pasar gula kristal dari pengamatan Mario, semakin berkembang khususnya untuk pasar ke luar negeri. Sejak tahun 2012 pasar gula kristal Indonesia masih di bawah 80 persen sehingga, menurut Mario merupakan potensi untuk patut dikembangkan.

“Untuk itu ke depan kita membutuhkan banyak petani untuk melakukan produksi gula kristal. Kemudian kita juga akan memperbaiki dan menstandarisasi kualitasnya priduksi yakni terkait pemberian larutan yang tepat, dengan memakai  peralatan yang tepat serta sistem produksi yang tepat,” ujarnya.

Ditambahkan, 95 persen  hasil produksi diekspor ke luar negeri. Ekspor telah dilakukan sejak tiga tahun yang lalu, di 35 negara seperti negar-negara Eropa, Brazil, Amerika, Australia. Ketatnya pasar Eropa sangat baik, dikarenakan gula organik sedang mendunia sehingga harus mengikuti peraturan yang ditetapkan.

“Kita tidak bisa menelantarkan pelanggan karena mereka semakin hari semakin pandai. Kita juga sedang masuk di pasar Starbuck terkait dengan pemakaian gula organik,” katanya. (min)