Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Wilayah Banyumas saat sidak pengawasan obat-obatan dan pangan dibulan Ramadhan dan menjelang idulfitri 1440 H di Desa Losari, Kecamatan Rembang, Selasa (14/5).

PURBALINGGA, SATELITPOST – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Wilayah Banyumas temukan obat palsu dan tanpa izin edar dijual bebas di warung kelontong, di wilayah Desa Losari, Kecamatan Rembang, Selasa (14/5). Hasil temuan tersebut langsung dimusnahkan bersama pemilik warung, secara sukarela.

Staf Pengawas Farmasi dan Makanan pada BPOM Wilayah Banyumas, Winanto, pihaknya menemukan obat-obat palsu. Selain itu juga ada obat-obat yang masuk kategori keras, yang seharusnya di jual di apotek, dengan seizin dokter.“Tidak boleh dijual sembarangan apalagi di toko-toko kelontongan, karena kalau tidak tahu dosisnya maka akibatnya bisa fatal,” kata Winanto.

Winarto menyampaikan, kegiatan tersebut merupakan bagian program Pengawasan Obat-Obatan dan Pangan di Bulan Ramadan dan Menjelang Idul Fitri 1440 H. Hal itu dilakukan sebagai antisipasi maraknya peredaran makanan yang mengandung zat berbahaya. Selain itu juga pengawasan peredaran obat-obatan. Sasaran di desa-desa, karena tidak menutup kemungkinan peredaran obat ilegal menyasar ke wilayah pelosok.

Dia menambahkan, hasil temuan kemudian dimusnahkan. Setelah sebelumnya meminta izin dari pemilik toko/warung. Selanjutnya barang dimusnahkan bersama-sama, termasuk dengan disaksikan oDinas Kesehatan (Dinkes) Purbalingga, Polres Purbalingga.

“Pemusnahan ini dibuat dengan sukarela dan tanpa paksaan langsung oleh Indiarti pemilik toko dan apabila toko ini ternyata nantinya masih menjual obat-obatan tersebut maka penjual bersedia dikenakan aturan hukum yang berlaku,” ujar Winanto.

Secara rinci obat-obat yang dimusnahkan yakni Osagi atau obat sakit gigi sebanyak 82 bungkus, sulfural sebanyak empat bungkus dan antalgin 500 mg sebanyak 16 butir. Kemudian obat palsu yang imusnahkan di toko tersebut yakni POnstan dengan berlogo FM palsu sebanyak 40 tablet.

Indiarti, pemilik Toko Dika mengaku tidak mengetahui jika obat Ponstan yang dijualnya ternyata palsu. Dan ia pun tidak mengetahui kalau obat-obatan yang dijual di tokonya dilarang dijual bebas dan harus sesuai petunjuk dari dokter.

“Ke depan saya tidak akan membeli obat-obatan itu lagi, karena memang tidak boleh dijual di toko ya dengan adanya pemeriksaan seperti ini saya jadi tahu kalau obat-obatan itu ternyata ada yang palsu, tanpa izin edar dan obat keras,” kata Indiarti. (amin@satelitpost.com)