TIM juri Pemuda Pelopor tingkat nasional dari Kemenpora (tengah) didampingi Dona Wahyuni De Fretes (tiga dari kiri), pencetus Kampung Warna Bobotsari, saat menilai Kampung Warna Bobotsari, Senin (23/7/2018). DOKUMENTASI KAMPUNG WARNA

LEBIH kurang 10 bulan. Pada rentang waktu ini, sebuah gagasan mengubah wajah desa dipertaruhkan. Adalah Dona Wahyuni De Fretes, gadis asal Desa Bobotsari, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, yang tak sanggup lagi membendung keresahan batinnya tatkala melihat kampung halaman kehilangan martabatnya. Sejak saat itu, ia bertekat mengubah kondisi kampungnya agar lebih disegani dan diakui keberadaannya.

Dona lahir dan tumbuh besar di perkampungan tak jauh dari Terminal Bobotsari.  Sampai pada tahun 90-an, Pemerintah Kabupaten Purbalingga merelokasi permukiman di sekitar terminal untuk keperluan perluasan area terminal. Warga dipindah ke lokasi baru yang ketika itu berupa persawahan.  Lokasi baru inilah yang kemudian menjadi wilayah RW 8 Desa Bobotsari.

Meskipun telah pindah ke lokasi baru dari tempat semula di kompleks terminal, tabiat warganya tak berubah. Warga masih membuang sampah di sembarang tempat. Sungai yang membelah RW 8 menjadi dua bagian dipenuhi sampah plastik dan limbah rumah tangga lainnya. “Kondisinya kumuh, dari sampah plastik sampai kasur bekas dibuang di sembarang tempat,” kata Dona ketika ditemui di rumahnya, Senin (8/10/2018).

Dona melihat, kondisi lingkungan yang kumuh berangkat dari perilaku warganya. Kesadaran warga menjaga kebersihan lingkungan terbilang rendah. Sayangnya, ini terlanjur membudaya dari generasi ke generasi. Tak hanya itu, pemuda desa yang menjadi harapan perubahan tenggelam dalam gaya hidup yang kontraproduktif, di antaranya kebiasaan minum minuman keras.

Namun Dona tak menyerah. Ia mencari celah untuk memperbaiki kehidupan kampungnya. Ia memulai ikhtiarnya dengan melakukan pendekatan langsung dan menjalin komunikasi. Suatu hari ia mendatangi sekelompok pemuda yang tengah asyik pesta minuman keras. Bungsu dari dua bersaudara itu muai berbicara dari hati ke hati. Perlahan ia mengajak mereka merenungkan tindakan mereka yang tak bermanfaat dan menawarkan aktivitas yang lebih bermanfaat. Hal ini tak berjalan sekali atau dua kali, namun berkali-kali. “Yang saya punya cuma hati dan niat yang tulus, maka yang saya akukan waktu itu berbicara dari hati ke hati. Saya meyakini apa yang berangkat dari hati juga akan sampai ke hati,” kata tenaga kontrak RSUD Purbalingga ini.

Dari pendekatan ini, ia melihat secercah harapan. Perlahan mereka mulai membuka diri. Di antara mereka ada yang mengutarakan keinginannya untuk berubah. Mereka mulai menyadari masa depan mereka tak akan berubah jika tak beranjak dari kondisi saat itu. “Sebenarnya mereka ingin berubah, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana,” ujar putri dari pasangan Buce Wellem Stefanus De Fretes dan Sri Wahyuningsih ini.

Tak hanya mendekati pemuda desa, Dona juga intensif menjalin komunikasi dengan tetua di wilayah RW 8. Momentum datang beberapa bulan menjelang perayaan HUT RI 2018. Pada pertemuan panitia peringatan HUT RI, ia mengutarakan gagasan mengubah lingkungan RW 8 menjadi Kampung Warna. Tujuannya tak lain mengubah wajah desa dari yang kumuh menjadi bersih dan indah.  “Waktu itu banyak yang menganggap remeh ide Kampung Warna, karena orang-orang terlanjur pesimistis dengan keadaan,” kata dia.

Meskipun pada mulanya tak mendapat dukungan penuh, namun Dona tak menyurutkan niatnya. Ia terus meyakinkan warga bahwa perubahan bisa terwujud jika ada kemauan. Tak jarang ia membersihkan sendiri sampah yang berserakan di gang-gang di antara rumah warga. Hal ini terus ia lakukan. Warga yang melihat kesungguhan Dona mulai tergerak. “Untuk mengubah pola pikir warga tidak bisa dengan main suruh-suruh biar orang-orang membuang sampah ke tempat sampah. Harus dengan tindakan, dengan memberi contoh,” ujar dia.

Pada pertemuan RW berikutnya warga mulai membahas kemungkinan realisasi gagasan Kampung Warna. Setelah mempresentasikan di depan warga, ide itu pada akhirnya bisa diterima. Namun, ide besar ini langsung terbentur keterbatasan biaya. Sebab, untuk membangun kampung warna membutuhkan dana yang cukup besar. Sementara kas RW ketika itu hanya ada Rp 10 juta. “Kas itu terkumpul dari jimpitan warga yang digunakan untuk keperluan sosial. Kalau kas itu dipakai untuk Kampung Warna, bagaimana jika sewaktu-waktu butuh dana untuk keperluan sosial. Sempat bingung waktu itu,” kata dia.

Maka diputuskan tetap menggunakan uang kas RW dengan ketentuan Kampung Warna didesain sebagai objek wisata sehingga bisa mendatangkan pendapatan. Pendapatan ini yang nantinya digunakan untuk mengembalikan kas RW yang terpakai. Setelah disepakati, rencana membangun Kampung Warna dimulai. Dinding-dinding rumah warga dicat warna-warni. Ada juga lukisan mural berbagai tema karya pemuda setempat. Setiap sudut Kampung Warna didesain untuk berswafoto bagi para pengunjung. Di antaranya ada jalan setapak dicat dan dihias dengan ornamen bunga berbahan limbah plastik beragam warna serta selang bekas kabel serat optik yang telah dibuang. Di sisi kanan ada sungai dengan air yang mengalir jernih. Di sebelah kirinya ada hamparan sawah dengan tanaman padi yang hijau. Ada pula pojok baca, semacam taman baca untuk pengunjung yang gemar membaca. Pemandangan warna-warni semakin menawan dengan latar belakang panorama Gunung Slamet yang berdiri kokoh. “Bedanya dengan kampung warna di daerah lain, di sini ada hamparan sawah yang hijau dan pemandangan Gunung Slamet yang terlihat jelas dari sini,” kata dia.

Sebagai gebrakkan, peluncuran dilakukan bersamaan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia.  Rencana ini tercium awak media, sehingga pada saat peluncuran berbagai media, mulai dari cetak, daring, hingga elektronik, datang meliput. Seketika Kampung Warna Bobotsari populer. Ditambah lagi promosi melalui media sosial yang menampilkan foto-foto pemandangan berbagai sudut Kampung Warna.  “Langsung booming, setelah itu Kampung Warna kebanjiran pengunjung. Dari tiket seharga Rp 3 ribu dan parkir Rp 2 ribu terkumpul sampai Rp 60 juta. Uang ini diputar untuk operasional dan mempercantik Kampung Warna, sebagian lagi untuk nyicil kas RW,” ujar dia.

Keberlanjutan Kampung Warna membuat Dona diusulkan pada ajang Pemuda Pelopor Kabupaten Purbalingga. Dari hasil seleksi wawancara dan tinjauan lapangan, Kampung Warna maju ke tingkat provinsi bidang sosial, budaya, dan pariwisata.  Di tingkat provinsi, Dona bersaing dengan pemuda pelopor dari 35 kabupaten dan kota se-Jawa Tengah. Setelah melalui serangkaian seleksi, mulai dari wawancara hingga fact finding,Dona kembali diganjar juara pertama. Dona pun melaju ke tingkat nasional mewakili Jawa Tengah bersama pemuda pelopor bidang lain. “Setelah jadi juara pemuda pelopor provinsi, bantuan dari desa turun,” kata dia.

Ia mengatakan, di tingkat nasional urutan tahap seleksi berbeda dengan ketika di tingkat provinsi dan kabupaten. Pertama tim juri nasional dari Kemenpora melakukan fact finding. Setelah dinyatakan lolos, nantinya baru dilakukan seleksi wawancara. Menjelang fact finding tim penilai nasional, Dona mengaku sempat kesulitan mendapatkan biaya untuk persiapan. “Tiga hari menjelang fact finding, saya nekat DM Pak Gubernur Ganjar lewat Instagram. Saya sampaikan kebutuhan biaya untuk persiapan fact finding tingkat nasional, alhamdulillah beliau bersedia membantu,” kata dia.

Bantuan dari Gubernur dimanfaatkan untuk membeli 20 kaleng cat. Cat itu digunakan untuk memperbarui cat yang muai pudar karena cuaca dan tema lukisan mural yang memang rutin diganti. Dia mengaku sangat bersyukur bisa menghadapi fact finding lebih maksimal. Kini ia masih menunggu keputusan tim penilai. Ia berharap Kampung Warna bisa lolos dan memberi manfaat lebih besar untuk warga. “Jadi kami beli cat dulu, terus biayanya diganti Pak Gubernur,” kata dia.

Suharti (65) warga Kampung Warna mengaku sangat terbantu dengan keberadaan Kampung Warna. Ia dan warga yang lain mendapatkan manfaat setelah pengunjung ramai berwisata ke Kampung Warna. Ia memanfaatkan keramaian untuk menjajakan kudapan dan minuman. Ia berharap dukungan nyata pemerintah daerah sehingga Kampung Warna bisa terus berkembang. “Karena kalau sepi, penjualan juga sepi. Jadi kami sangat berharap perhatian pemerintah agar Kampung Warna bisa terus ramai,” kata dia.

Sementara Muljo Sukemi (75), warga lainnya mengatakan, Kampung Warna bisa semakin ramai seandainya dibangun taman bermain untuk anak. Menurutnya, dengan taman bermain, maka Kampung Warna akan menjadi objek wisata keluarga. “Kalau menjadi objek wisata keluarga maka akan semakin ramai,” ujar dia.

Terlepas dari seberapa besar kontribusi ekonomi yang diberikan, Kampung Warna telah mengubah sesuatu yang lebih esensial dari sekadar perubahan fisik, yaitu perubahan perilaku warganya. Waktu 10 bulan terbilang singkat untuk sebuah komunitas bermetamorfosa menjadi lebih baik. Bukti bahwa dengan kesungguhan hati, perubahan sebesar apapun bisa diwujudkan. Seorang perempuan muda bernama Dona Wahyuni De Fretes telah memeloporinya. Kini tinggal bagaimana menyemai semangat Dona kepada pemuda lainnya agar metamorfosis tak berhenti di Kampung Warna Bobotsari, tetapi juga di kampung-kampung lain yang tampak mustahil sekalipun.(rudal afgani)