SOLEH dan Tiasih,sepasang suami-istri yang tinggal di lorong tembok antardua toko, ABC Kitchen dan Oppo Store, selatan Taman Kota Usman Janatin

Soleh (40) dan istrinya, Tiasih (40) hidup di lorong antara dua toko Jalan Komisaris Noto Sumarsono, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga. Jangankan rumah tidak layak huni (RTLH), lorong gelap selebar 50 cm dengan panjang sekitar 10 meter itu rasanya tak pantas untuk dijadikan sekadar kamar tidur.

Saat SatelitPost ke lokasi, Selasa (5/2), kedua pasangan itu tak berada di tempat. Di balik pintu jeruji besi terlihat seekor kucing hitam yang tengah duduk santai. Di depan pintu terdapat dua termos dan kasur busa yang dilipat.

Setelah 10 menit berselang, Tiasih keluar dari sebuah gang usai mandi sore. Katanya, tidak ada kamar mandi di lorong tersebut sehingga dia mesti ke masjid terdekat untuk mandi dan buang air besar.

Sambil menggendong kucing hitam itu, dia memperkenalkan binatang kesayangannya yang dinamai Ireng. Sedangkan dua termos dan perlengkapan lain sedang dipersiapkannya untuk berjualan kopi keliling di Alun-alun Purbalingga. “Ya kalau pagi jualan di Pasar Hewan, malamnya jualan di alun-alun,” ujar Tiasih.

Tak jauh dari sana, Tiasih pun memanggil suaminya yang bekerja sebagai tukang becak. Dia biasa mangkal di sekitar Jalan Komisaris Notosumarsono. Soleh dengan serta merta datang masih mengenakan mantel plastik karena hari hujan.

Pria itu menuturkan, mereka sudah lama tinggal di sekitar Taman Kota Usman Janatin, bahkan saat wilayah itu masih berupa pasar lama. Sedangkan rumah aslinya ada di Desa Prigi, RT 3/1, Kecamatan Padamara, sesekali dia pulang ke rumah sekedar untuk bersih-bersih. “Dulu jadi buruh angkut, kadang nuturi cabai, sayur, untuk dijual lagi, kadang minta-minta ke orang, kalau istri dari dulu jualan minuman,” katanya.

Lanjut Soleh, setelah pasar pindah lokasi, dia membeli becak dengan mengangsur selama 24 bulan. Moda transportasi roda tiga itulah yang kini jadi tumpuannya mencari nafkah. Meski dia sesalkan juga, pelanggan semakin tahun kian berkurang, tergerus peradaban yang semakin maju. “Kadang banyak, kadang sedikit, kadang ndak ada pelanggan sama sekali,” ujarnya menahan sesak.

Atas kemiskinan itu pula yang pernah membuatnya kalang kabut kala istrinya sakit. Diantarkannya sang istri ke fasilitas kesehatan terdekat, tetapi ditolak karena Kartu Indonesia Sehat mengharuskannya ke Puskesmas sesuai domisili.

Sedangkan untuk berobat dengan uang pribadi tak mampu ia lakukan. Mau tak mau ia pun kayuh sepedanya ke Puskesmas Padamara. Saat pembangunan Taman Kota Usman Janatin, Soleh dan istrinya sempat asal tidur di emperan toko. Jika pasar lama menyediakannya lapak untuk melepas lelah, pembangunan justru menggusurnya ke tepi jalan.

Karena alasan itulah salah satu pemilik toko membereskan lorong dan membuatkan pintu untuk tempat mereka istirahat. Hingga kini, lorong gelap itulah tempatnya menghabiskan malam hingga pagi bersiap memulai kehidupannya yang biasa saja. “Dibuatkan tempat sama babah, soalnya biasa tidur di depan toko,” katanya.

Sepasang suami istri itu memiliki dokumen kependudukan yang lengkap. Keduanya memiliki KK, KTP, serta memiliki Kartu Indonesia Sehat dan Kartu Keluarga Harapan. Akan tetapi, sampai kini dia mengaku belum pernah mendapat bantuan, sekalipun berupa beras sejahtera (rastra).

Tentu, sebagai warga negara, dia berharap ada bantuan dari pemerintah. Terutama untuk mengisi celah bagaimana cara rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan dengan sedikit pengetahuan bisa mendapatkan bantuan dan perawatan. (Cr3)