ICUK (kanan) sedang bercengkrama dengan ibunya setelah hampir tiga pekan meninggalkan rumah.SATELITPOST/AMIN WAHYUDI

PURBALINGGA, SATELITPOST – Icuk Ebun Nur Alim (9), bocah dari RT 4 RW 2 Wirasana yang meninggalkan rumah sejak tiga pekan lalu akhirnya bisa pulang dengan selamat, Rabu (6/12) siang. Icuk diantar sejumlah personel Polsek Purbalingga, kemarin siang sekitar pukul 11.00.

Kapolsek Purbalingga Kota AKP Jaenul mengatakan, pemulangan Icuk diawali informasi dari keluarga Saiful Ridwan Nur alias Ipul (14). Ipul merupakan teman Icuk yang bersama-sama memutuskan meninggalkan rumah masing-masing.

Menurutnya, Polsek mendapatkan informasi dari keluarga Ipul soal keberadaan kedua bocah tersebut. Lalu, bersama Kanit Reskrim Iptu Wartono, ia melakukan pendampingan dan menjemput kedua bocah tersebut.

“Petugas Polsek Purbalingga Kota menjemput keduanya di Jakarta setelah mendapat informasi dari keluarganya tentang ditemukannya kedua anak-anak yang hilang di Jakarta,” katanya.

Polsek Purbalingga melakukan koordinasi dengan Polsek Tanjung Duren guna melakukan pengecekan dan pengamanan terhadap kedua anak tersebut. “Polsek Tanjung Duren membenarkan bahwa  kedua anak tersebut orang Purbalingga yang pergi tanpa pamit dari rumah dan sedang dicari keluarganya,” kata dia.

Kepada SatelitPost, ia mengisahkan petualangannya selama tiga pekan. Bocah yang masih duduk di bangku kelas 4 SD ini meninggalkan Purbalingga dan pergi menuju Jakarta. Bersama rekan sebayanya, Saiful Ridwan Nur (14), Icuk menempuh perjalanan ke Jakarta dengan menaiki truk barang dari terminal Purbalingga.

Selama di Jakarta, Icuk tinggal di kolong flyover jalan tol Grogol-Tanjung Duren. Dia tinggal bersama puluhan anak jalanan, beberapa di antaranya sudah kenal dengan Ipul. “Di sana ada sepuluh lebih. Saya yang paling kecil,” kata dia.

Puluhan anak jalanan itu diasuh oleh seorang ibu yang menurut Icuk bernama Uni. Setiap hari,Uni memberi makanan anak asuhnya. Namun, anak-anak harus setor uang kepada Uni. Tidak terkecuali Icuk yang setiap harinya mengamen. Dia setor sepuluh ribu kepada Uni.

“Aku ngamen. Kalau Ipul jadi kernet Kopaja. Setiap hari setor sepuluh ribu, dikasih makan,” ujarnya.

Jika hari itu tidak ngamen, lanjut Icuk, dirinya tetap dapat makan. Karena Ipul setiap hari tetap setor kepada Uni. Kadang, Ipul juga memberikan jajan kepada Icuk. Karena merasa dia yang mengajak Icuk pergi. “Kalau tidak ngamen tetap makan, karena Ipul tetap setor ke Uni,” ujarnya.

Selayaknya anak pada  umumnya, Icuk pun merasakan kangen dengan keluarga. Hanya saja, Icuk dan Ipul tidak bisa meninggalkan tempat itu begitu saja. Setiap hari anak jalanan di sana mendapatkan pengawasan dari Uni. “Kangen keluarga, iya nangis. Tapi tidak bisa pergi karena diawasi,” katanya.

Hingga akhirnya, suatu hari Ipul melihat informasi di media sosial kalau orang tua Icuk mencari keberadaannya. Kemudian Ipul mencoba menghubungi tantenya yang berada di Jakarta. Tante Ipul pun menjemput di kawasan tempat tinggal Ipul dan Icuk. Namun, oleh Uni tidak diperbolehkan pergi.

“Tidak boleh pulang, terus Uni minta tebusan ke Tantenya Ipul. Lalu tantenya Ipul datang ke situ lagi bareng polisi. Setelah itu baru bisa pergi,” katanya.

Selanjutnya, Tante Ipul menghubungi orang tua Ipul di Purbalingga. Begitu juga dengan Polsek Tanjung Duren. Pihaknya berkoordinasi dengan Polres Purbalingga. Selanjutnya, anggota Polres Purbalingga bersama orang tua Ipul menjemput keduanya di rumah tante Ipul. “Dijemputnya di rumah tantenya Ipul, saya bareng ibu Ipul, Ipul bareng ayahnya,” kata dia. (min)

Sempat Mau Dikirim ke Padang

Icuk mengaku mendapat perlakuan berbeda dari ibu Uni. Selain Icuk, puluhan anak jalanan tidur di luar ruangan. Sedangkan Icuk tidur di dalam bersama Uni dan Rohim (Suami Uni). Di antara penyangga jembatan, Uni dan Rohim membuat sebuah ruangan untuk tinggal. “Saya tidurnya di dalam bareng ibu angkat,” kata dia.

Dia juga mengaku tidak pernah di marahi atau diperlakukan kasar. Sepengetahuan Icuk, Uni sempat marah karena anak-anak membuang sampah sembarangan di lokasi tempat tinggal uni. Sehingga uni membuang sepatu dan sendal anak-anak. “Uni pernah marah dan membuang sepatu anak anak, karena anak anak buang sampah sembarangan,” katanya.

Lebih lanjut, Icuk mengatakan bahwa dia akan di kirim ke Padang. Dia diberitahu kalau Uni sudah membelikan tiket perjalanan ke Padang. Namun, untuk tujuan apa di dikirim ke Padang, Icuk tidak mengetahuinya. “Katanya mau dikirim ke Padang, sudah dibelikan tiket,” katanya. (min)

Komentar

komentar