FAHRI dan Fauzan foto bersama kedua orang tua serta dua petugas pemadam kebakaran Kabupaten Purbalingga, sesaat sebelum berangkat ke tempat khitan, SATELITPOST/AMIN Jumat (12/5).

Jumat (11/5/2018) sore, mobil pemadam kebakaran (Damkar) Kabupaten Purbalingga keluar dari garasinya. Biasanya mobil melaju dengan gesit dan suara sirene meraung sepanjang jalan. Tapi tidak untuk kali itu. Ketika mobil damkar dengan dua petugas melaju ke Desa Madasen RT 3 RW 1 Kecamatan Kemangkon.

Sekitar dua puluh menit sampaikan mobil di lokasi tujuan. Namun, sejak di ujung gang, tidak tampak kepulan asap hitam tau gemuruh orang-orang, seperti biasanya suasana peristiwa kebakaran. Pada ujung gang, justru ada lengkungan janur kuning, tanda ada orang punya hajat.

Seorang anak kecil lari menuju mobil, sembari tersenyum kegirangan. Lalu balik lagi ke rumah, sambil teriak memanggil ibunya. “Ibu, bu, mobilnya datang, mobilnya sudah datang,” teriak bocah yang mengenakan sarung, pakaian koko lengkap dengan pecinya.

Belum juga sampai masuk ke dalam rumah, anak tersebut keluar lagi. Masih dengan raut muka bahagia. Kalimat yang keluar dari mulutnya tidak berubah. “Mobil damkar datang, mobilnya sudah datang,” ujar dia.

Dia adalah Fahri Ihza Mananza. Rupanya bocah kelas 3 SD ini merupakan bocah yang akan disunat hari itu. Namun, kepada orang tuanya, Fahri meminta untuk naik mobil damkar, saat diantar ke klinik tempat dia dikhitan. Hal itu menjadi syarat wajib, yang dia pinta kepada orang tuanya.

“Dia mau disunat kalau diantar naik mobil damkar,” kata ibu Fahri, Turi Riwayati, Jumat (11/5/2018) petang.

Baca Juga: Bocah 10 Tahun Jadi Tulang Punggung Keluarga

Dua petugas pemadam kebakaran, Yulianto dan Wagianto keluar dari mobil dan berjalan menuju tenda hajatan. Masih dengan raut muka bahagia, Fahri yang didampingi ibu dan bapaknya Darmanto, menyalami dua petugas dampar tersebut.

“Sebenarnya yang sunatan dua anak, kakak-adik, Fahri yang adiknya. Kakaknya yang bernama Fauzan kelas 6, Fahri kelas 3, yang ngotot minta naik mobil damkar si Fahri,” ujarnya Yati.

Umumnya, kata dia, ketika anak hendak disunat, diarak dengan tandu seperti raja. Ada juga naik delman atau becak dengan ornamen yang menghiasinya. Hal itu sudah disampaikan pada Fahri, oleh ibunya. Namun ia tetap tidak tertarik, mobil damkar tetap menjadi permintaannya.

“Awalnya saya bingung, bagaimana bisa untuk seperti ini (mendatangkan mobil damkar, red). Lalu saya ingat, punya teman petugas damkar, lalu saya coba hubungi,” katanya.

Setelah mendapatkan jawaban, sebagai orang tua dia merasa tenang. Sejak saat itu, sampai menuju hari H Fahri disunat, anaknya terus menerus menanyakan kedatangannya. Hal itu membuat Tuti sedikit khawatir juga. Kalau-kalau pas hari H, ada peristiwa yang menjadikan mobil dipakai tugas.

“Setelah saya telpon teman saya, dan disampaikan bisa, asal waktu tidak ada peristiwa, saya sampaikan pada anak, tiap hari anak menanyakan terus,” ujarnya.

Alasan Fahri ingin naik mobil damkar, karena model mobil tersebut beda daripada mobil pada umumnya. Menurut bocah kelahiran 5 Mei itu, mobil damkar kekar dan bisa menyemprotkan air. Antara penasaran dan kagum itu yang mungkin menjadikan Fahri meminta untuk naik damkar saat sunatan. “Gagah, ada sirinenya, bisa nyemprot air,” katanya dengan nada malu-malu.

Baca Juga: Diduga Keinginan Tak Dipenuhi, Bocah 14 Tahun Gantung Diri

Saat ditanya, apakah ingin menjadi petugas damkar, Fahri pun merespons dengan menganggukan kepala. Nampaknya dia sudah memiliki pemahaman tentang petugas pemadam kebakaran. Hal itu terlihat dari alasan mendambakan bisa menjadi petugas pemadam. “Pakaian bagus, selalu menolong yang terkena musibah,” ujar Fahri.

Tuti menceritakan, alasan Fahri tertarik pada mobil Damkar, karena mobilnya beda dengan bentuk mobil lainnya. Menurut Fahri, mobil damkar itu kekar dan keren. Apalagi ada sirine dan bisa menyemprotkan air. Tidak lepas juga dengan seragam pemadan yang menurut Fahri juga apik. “Kalau saya tanya, katanya mobilnya gagah dan bisa menyemprot,” ujar Yati.

Ketertarikan anaknya pada mobil pemadam, mungkin ada kaitannya dengan masa lampau. Saat usia masih sekitar dua tahun, Fahri kerap diajak ke kantor pemadam kebakaran. Sekedar melihat-lihat dan memegang mobil yang terparkir. “Ya kalau dulu waktu masih sekitar dua tahun memang sering diajak ke kantor damkar, sekedar memegang mobil dan melihat saja,” ujar Yati.

Setelah selesai sesi khataman alquran, Fahri dan Fauzan menuju ke mobil damkar. Fahti tidak mau duduk di kabin depan. Akhirnya, bersama ayahnya serta didampingi Yulianto, Fahri berdiri di belakang kabin.

Suara dan lampu sirine dinyalakan sepanjang perjalaan menuju tempat khitan. Tapi Fahri tampak menikmatinya. Dia tersenyum-senyum sepanjang perjalanan. Orang-orang yang melihat mobil melintas, terlihat keheranan. Karena mobil tidak melaju secepat biasanya.

Baca Juga: Bocah Purbalingga Ngemis Raup Rp 400 Ribu per Hari

Sepulang dari tempat khitan, Fahri pindah menempati kabin depan. Kali ini, dia tinggal menikmati suasana seolah menjadi sopir mobil damkar. Ketika ditanya hobinya, dia menjawab dengan lugunya. “Ingin menjadi sopir pemadam,” ujarnya.

Setibanya di rumah, mobil berhenti, penumpang dan sopir turun. Fahri dan Fauzan menyalami Yuli dan Wagianto. Yudi dan Wagianto berpamitan pada orang tua Fahri. Mereka langsung menuju ke Wirasana. Bertugas mengamankan event musik di daerah Lanud. Tidak lupa, Fahri dan Fauzan mengucapkan terima kasih. (amin)