DOSEN Unsoed, Novita Puspasari SE MSc AK (kedua kanan) menjawab pertanyaan audiens saat Sesi Interaktif Penempatan Tenaga Kerja Muda di Hotel Gran Karlita Purwokerto, Kamis (18/7/2019).SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH
DOSEN Unsoed, Novita Puspasari SE MSc AK (kedua kanan) menjawab pertanyaan audiens saat Sesi Interaktif Penempatan Tenaga Kerja Muda di Hotel Gran Karlita Purwokerto, Kamis (18/7/2019).SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH

PURWOKERTO, SATELITPOST-Berkembangnya ilmu teknologi di segala lini turut serta berpengaruh pada tingkat keberadaan calon tenaga kerja. Alhasil, pemerintah dituntut untuk terus mendorong tenaga muda agar dapat beradaptasi dengan kondisi terkini, terlebih, memasuki revolusi industri 4.0 dimana banyak tenaga kerja yang akan tergantikan dengan mesin. Sehingga berdampak pada tenaga kerja yang terus meningkat dan semakin sempit peluang kerja yang terbuka.

Data dari Dinas Tenaga Kerja Koperasi dan UKM (Dinnakerkop UKM) Banyumas pada tahun 2018 ada 15.368 orang yang menganggur. Melihat jumlah tersebut, Kasubid Penempatan Tenaga Kerja Khusus Kementrian Tenaga Kerja, Selviana mengatakan perlu adanya inovasi yang menyesuaikan dengan perkembangan zaman, seperti mendorong pertumbuhan usaha rintisan atau start up.

“Melihat dari jumlah tenaga kerja muda, itu memang di bawah nasional. Tapi dalam cakupan Provinsi Jateng ada satu tingkat lebih tinggi dari standar nasional soal tenaga kerja muda,” kata Selviana saat menghadiri Sesi Interaktif Tenaga Kerja Muda di Hotel Gran Karlita Purwokerto, Kamis (18/7/2019).

Selvi mengatakan, bonus demografi memberi tenaga kerja muda berlimpah. Di antara mereka ada yang berinovasi, contohnya tiketing untuk agen travel. “Nantinya, usia produktif akan lebih tinggi. Timpang 70-30. Dimana banyak tenaga produktif tapi tidak ada peluang kerja. Jangan sampai mengarah pada tindakan kriminal,” kata dia.

Sementara itu, pihaknya juga menyoroti perihal lulusan SMK yang langsung bisa ditempatkan di tempat kerja. “Dulu, kita menahan masuknya penganggur dengan tetap sekolah. Mereka kalau mau siap kerja ya harus masuk SMK, kalau SMA lanjut kuliah. Kita sudah coba menahan, tapi kenyataanya anak SMK sekarang kurang siap. Mereka perlu latihan lagi,” kata dia.

Pada era industri 4.0, lanjut Selviana, tenaga kerja akan digantikan dengan mesin. Menurutnya, ini kenyataan yang harus dihadapi. “Sekarang yang dituntut perusahaan adalah sertifikasi kompetensi. Sehingga pemerintah menerapkan pendidikan vokasional lebih condong pada pelatihan keterampilan,” ujar dia.

Pemerintah nenyediakan pelatihan agar setelah lulus sekolah bisa masuk dunia kerja, kemudian untuk meningkatkan keterpilan agar para tenaga kerja bisa mempunyai keahlian sesuai dengan yang dibutuhkan industri. (anank@satelitpost.com)