BUPATI didampingi Wakil Bupati (kanan) dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas (kiri) memimpin dialog terkait pengelolaan sampah bersama camat dan lurah se Kabupaten Banyumas, Kamis (13/6/2019).SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH
BUPATI didampingi Wakil Bupati (kanan) dan Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Banyumas (kiri) memimpin dialog terkait pengelolaan sampah bersama camat dan lurah se Kabupaten Banyumas, Kamis (13/6/2019).SATELITPOST/ANANG FIRMANSYAH

 

Lurah, tugas utama dari saya itu soal sampah. Kalau tidak tertangani dengan baik, berarti gagal.  Itu perjanjian. Yang lainnya nomer dua. Sampah yang utama

Bupati Banyumas, Achmad Husein

PURWOKERTO, SATELITPOST-Sampah menjadi persoalan yang hingga saat ini belum terselesaikan dan banyak dikeluhkan masyarakat di Banyumas. Merasa gerah, pemkab mengumpulkan lurah, camat, dan pengurus kelompok swadaya masyarakat (KSM) di ruang Graha Satria, Kamis (13/6/2019) untuk menjadikan persoalan sampah menjadi prioritas bersama.

“Lurah, tugas utama dari saya itu soal sampah. Kalau tidak tertangani dengan baik, berarti gagal.  Itu perjanjian. Yang lainnya nomer dua. Sampah yang utama,” kata Bupati Banyumas, Achmad Husein.

Ia tidak mau lagi mendapat laporan dari masyarakat, baik melalui media sosial, media cetak dan pesan elektronik menunjukan ada sampah yang tidak tertangani. Sebab sebagai Bupati, ia tak mau dituduh tidak bekerja dengan baik mengelola sampah oleh masyarakat.

“Jangan sampai saya menerima lagi dari WA, atau medsos ditemukan sampah berceceran dan menyebut kami tidak menanganani sampah. Menjadi bahan tertawaan, sudah satu tahun tidak selesai-selesai. Saya menghendaki seperti itu, dan saya mengerti ini tidak mudah,” katanya.

Husein juga menyoroti kinerja hanggar yang sebelumnya digadang-gadang bisa menjadi solusi persoalan sampah di Banyumas. Namun, setelah berjalan hingga sampai sekarang belum bisa menyelesaikannya.

Menurutnya, setelah sekian lama memantau cara kerja hanggar, ia melihat proses kerja pengolahan tidak efektif. “Saya tahu di hanggar ini tidak efektif. Padahal seharusnya residu itu hanya 30 persen. Tetapi yang saya lihat, kalau masuk 1 ton, residu masih 700 kg, bahkan sampai 800 kg. Yang bisa diambil manfaatnya hanya 200 atau 300 kg. Ini sangat berlawanan dengan yang kita rancang di awal,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banyumas, Suyanto mengakui, persoalan sampah ini belum juga terurai meski sudah ada proses pemilahan sampah di hanggar. Ia beralasan ada beberapa permasalahan yang dihadapi.

Seperti tentang masih rendahnya jumlah pelanggan yang masih berada di bawah 10 ribu sehingga hal ini, kata dia, berdampak pada pendapatan yang diperoleh KSM. Kemudian persoalan kedua yakni tentang adanya warga yang menolak tarif dari KSM.

Sedangkan permasalahan tentang sampah sendiri, lanjutnya, pengambilan sampah yang ada di masyarakat juga masih sering terlambat. Kemudian, belum maksimalnya pemilahan sampah sehingga menyebabkan sampah menumpuk di hanggar.

“Sebanyak 70 persen masih residu. Banyak sampah organik yang terbuang, dan justru menjadi residu. Masih banyak yang campur dengan residu, plastik juga campur residu. Akhirnya dibuang ke Windunegara,” katanya. (anas@satelitpost.com)