PEKERJA tengah memberi makan ayam di peternakan ayam petelur, Desa Kalisari Kecamatan Cilongok, Kamis (12/7/2018).SATELITPOST/RARE
PEKERJA tengah memberi makan ayam di peternakan ayam petelur, Desa Kalisari Kecamatan Cilongok, Kamis (12/7/2018).SATELITPOST/RARE

CILONGOK, SATELITPOST-Harga telur ayam terpantau terus mengalami kenaikan setelah Lebaran 2018. Di pasaran, harga komoditi bahan pokok ini mencapai Rp 28 ribu sampai Rp 29 ribu per kilogramnya.

Wawan Setianto (35) peternak ayam petelur di Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok mengatakan, kenaikan harga telur belakangan ini dipengaruhi beberapa faktor, di antaranya, keafkiran ayam (tidak bisa lagi berproduksi) serta harga pakan jadi yang mengalami kenaikan.

“Afkiran disebabkan usia ayam yang sudah mencapai 100 minggu. Sedangkan ayam produktif mulai berusia 20-21 minggu. Afkiran ini mulai terjadi selepas Lebaran kemarin,” katanya kepada SatelitPost, Kamis (12/7).

Dari total jumlah ayam petelurnya sebanyak 10 ribu ekor, Wawan mengaku sekitar 4 ribu ekor ayamnya mengalami afkir dan harus disingkirkan. Kondisi ini mengakibatkan produksi telur mengalami penurunan. Dari biasanya sehari bisa menghasilkan 50-an peti telur dengan asumsi satu peti berisi 170 butir telur, namun akhir-akhir ini hanya menghasilkan 35 peti saja. “Produksi mengalami penurunan, biasanya bisa sampai 90 persen, sekarang rata-rata 60 persen. Kalau produksi turun otomatis permintaan yang selama ini tercukupi menjadi tidak tercukupi. Ini mengakibatkan harga mengalami kenaikan,” kata warga ‎RT 2 RW 1 Desa Kalisari, Kecamatan Cilongok ini.

Sementara belum sempat dia melakukan peremajaan ayam (mengganti ayam afkir) kenaikan harga pakan terjadi beberapa pekan terakhir. Sehingga sampai saat ini, dia belum mengisi tiga kandang ayamnya yang kosong dengan ayam baru.

“Pakan jadi jenis gav ini naik mulai Rp 5 ribu hingga Rp 7 ribu per kantongnya. Jadi mau tidak mau peternak juga harus menaikan harga jual telur. Kalau kenaikan pakan disebabkan tingginya dolar saya kurang tahu, bisa jadi juga kalau memang pakannya impor. Untuk pakan, kami disuplai rekanan di sekitar Cilongok saja,”katanya.

Wawan mengatakan, dari harga partai, saat ini ia hanya bisa menjual dengan harga Rp 240 ribu per peti. Ia mengaku pernah menawarkan harga Rp 260 ribu per peti namun tidak laku. Sementara di  peternak lainnya bisa menjual di atas harganya.

“Kami tidak bisa menahan telur itu berlama-lama karena berisiko rusak. Produksi telur harus segera dilempar ke pasar dalam waktu satu sampai dua hari setelah panen. Pasalnya, daya tahan telur hanya sampai sekitar 10 hari,” katanya. (rare@satelitpost.com)