BUPATI Banyumas bersama jajaran Forkompinda saat peluncuran Banyumas Smart City diUmah Daun Resto Purwokerto, Senin (7/10).

 

 

 

PURWOKERTO, SATELITPOST –Upaya Banyumas untuk menjadi daerah yang layak mendapatkan predikat sebagai smart city masih diwarnai persoalan khas Purwokerto, yaitu perkara sampah. Hal ini terlihat dari peluncuran Aplikasi Sampah Online Banyumas (Salinmas) saat penandatangan MoU Banyumas menuju smart city.

Bupati Banyumas, Ir Achmad Husein mengklaim Salinmas dapat menjadi solusi penanganan sampah. Sampai akhirnya limbah-limbah tersebut tak perlu lagi dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA). Pun demikian, aplikasi ini baru bisa digunakan di tiga wilayah. Antara lain, Purwokerto Lor, Kedungwuluh, dan Sokanegara. Jumlah tersebut tak mencapai satu persen wilayah desa dan kelurahan di Banyumas yang mencapai 331 kawasan.

Melalui aplikasi ini, pemkab akan membeli sampah organik dengan harga Rp 100 per Kg.  “Kalau sudah jadi organik maka tidak perlu ke TPA,” kata dia.

Selain sampah organik, sampah plastik juga akan dihargai. Sampah plastik nantinya akan dikelola oleh pihak swasta. “Sampah plastik dikelola oleh swasta. Plastik dihargai Rp 2 ribu per kilo,” ujarnya.

Terkait sampah khusus seperti pembalut dan popok, Husein berharap bisa mengubahnya menjadi bata ringan. “Non plastik kita cacah kita jadikan bata ringan,” kata Husein.

Terpisah, Ngadimin Kabid Kebersihan Dinas Lingkungan Hidup kabupaten Banyumas menjelaskan, peluncuran Salinmas memang dilakukan bertepatan dengan MOU smart city. Ini dilakukan agar momentumnya sesuai. “Nanti akan diuji coba tiga wilayah dahulu yaitu Purwokerto Lor, Sokanegara, dan Kedungwuluh,” ucapnya.

Guna mendukung Salinmas pihaknya memfasilitasi komposter. Baru ada 200 komposter yang rencananya disiapkan 2000. “Semoga nanti wilayah lain dapat mengikuti secara bertahap,” katanya. (anang@satelitpost.com)