MENTERI Agama, Lukman Hakim Saifudin, menjadi pembicara pada seminar nasional bertajuk
MENTERI Agama, Lukman Hakim Saifudin, menjadi pembicara pada seminar nasional bertajuk "Moderasi Beragama Berbasis Kearifan Lokal Budaya Penginyongan" di IAIN Purwokerto, Jumat (12/7/2019). SATELITPOST/ANAS

PURWOKERTO, SATELITPOST-Untuk menghindari pemahaman dan praktik keagamaan ekstrem, masyarakat diimbau menjalankan moderasi beragama. Satu di antaranya melalui budaya atau kearifan lokal yang ada di setiap daerahnya seperti di Banyumas dengan budaya panginyongan.

“Tradisi menjadi begitu penting dalam menjalankan moderasi beragama, karena nilai-nilai agama membutuhkan wadah melalui tradisi atau kebudayaan yang ada di daerahnya,” kata Menteri Agama, Lukman Hakim, saat berbicara pada seminar di IAIN Purwokerto, Jumat (12/7/2019).

Menurutnya, Indonesia bukanlah negara Islam dan juga bukan menjadi negara sekuler, tetapi hanya memposisikan nilai-nilai agama pada posisi vital dengan tidak menformalkan nilai-nilai tersebut. Konsekuensinya, pemerintah tidak membatasi kehidupan agama setiap warga negara.

Dengan dasar tersebut, segala keberagaman menjalankan agama dihormati dalam kehidupan berbangsa dan negara. Meskipun ia tidak menampik, ada beberapa orang yang mencoba memaksakan pemahamannya kepada yang lain, sehingga menimbulkan pengkotak-kotakan dan tidak menerima perbedaan.

“Kami menginginkan moderasi beragama, dan agama itu sendiri sudah moderat. Namun, ada beberapa kelompok yang hanya memahami agama dengan teks secara berlebihan dan ultrakonservatif,” katanya.

Seperti halnya ketika proses masuknya agama Islam di nusantara yang lebih mengedepankan tasawuf dengan tidak menghilangkan keraifan lokal yang sudah ada. Dalam budaya panginyongan, kata dia, ada satu yang menarik yakni tentang tidak melihat perbedaan strata sosial dalam bermasyarakat yang bisa diartikan sebagaimana memahami satu sama lain dengan sifat egaliternya dan lebih cair dalam menghadapi perbedaan.

“Panginyongan saya artikan sebagai upaya memahami diri sendiri untuk bisa memahami orang lain dengan berbagai perbedaan,” katanya.

Rektor IAIN Purwokerto, M Rokib mengatakan, pihaknya berkomitmen institusi pendidikan yang dipimpinnya tersebut akan tetap menjaga kearifan lokal yang dimiliki Banyumas dengan berbagai kebudayaan yang ada.

“Kami berkomitmen untuk bisa mengembangkan budaya panginyongan sebagai kearifan lokal Banyumas, dan kami sampaikan pada masyarakat luas untuk memahami budaya panginyongan mulai dari bahasa ngapaknya,” katanya. (nns)