PEMBELI mengunjungi kios kudapan tradisional yang dijual dengan gepeng, mata uang zaman dulu, di Pasar Pinggir Alas Baturraden, beberapa hari lalu. ISTIMEWA
PEMBELI mengunjungi kios kudapan tradisional yang dijual dengan gepeng, mata uang zaman dulu, di Pasar Pinggir Alas Baturraden, beberapa hari lalu. ISTIMEWA

Pasar biasanya berdiri di sekitar lokasi keramaian ataupun di pusat kota maupun desa. Namun ada pasar yang terletak di Jalan Raya Baturraden tepatnya di Grumbul Muntang, Desa Karengtengah, Kecamatan Baturraden. Pasar unik ini dinamai Pasar Pinggir Alas.

Di pasar ini menyediakan berbagai macam barang tradisional, cendera mata hingga makanan tradisional. Jika Anda memasuki area pasar, Anda akan melihat beberapa pernak-pernik unik seperti tampah yang terpasang di dinding bilik warung-warung. Tampah tersebut ada yang dihiasi sedemikian rupa ataupun menjadi media daftar harga makanan dan minuman.

Tidak hanya tampilannya saja, tempat penyajian jajanan yang dijual di pasar tersebut juga menggunakan peralatan tradisonal yakni perkakas dari tanah liat. Tidak sampai situ, bagi pengunjung yang hendak belanja di pasar diwajibkan menukarkan uang asli dengan uang kepengan yang terbuat dari batok kelapa. Satu kepeng uang dua sen setara dengan Rp 2 ribu dan lima sen setara dengan Rp 5 ribu.

Menurut pengelola Pasar Pinggir Alas, Sudiro, pasar itu berdiri atas dasar keinginannya memberdayakan masyarakat desa. “Setelah berdiskusi dengan sejumlah pelaku wisata, akhirnya lahan seluas 3 ribu meter persegi ini kami manfaatkan untuk membuat pasar tradisonal,” kata dia.

Di area seluas 3 ribu meter persegi ini berdiri 80 buah lapak. Namun dari 80 lapak, baru 65 lapak yang terisi untuk stand makanan dan 10 stand untuk suvenir. “Lapak yang masih kosong itu karena pedagangnya dari wilayah Kecamatan Banyumas ada juga dari luar kota seperti Purbalingga,” ujarnya.

Pasar tersebut, menurut Sudiro, ada sekitar 100 jenis makanan tradisional. Dari mulai jajanan pasar, minuman tradisional serta makanan khas zaman dulu. “Ada banyak minuman tradisional, seperti wedang cleblek, jamu, es mutiara, jahe, uwuh, dawet ayu, badeg, es cau, bajigur dan masih banyak lagi. Jajanannya juga banyak seperti mendoan, getuk, ciwel, cenil, inthil, pecel, gebral, candil, buntil, grontol, kacang dan banyak lagi,” kata dia.

Pasar tradisional ini hanya dibuka setiap hari Sabtu, Minggu serta hari libur nasional. Sedangkan untuk waktu operasionalnya dimulai pukul 06.00 WIB hingga 17.00 WIB. “Kalau makan di sini, pengunjung juga akan disuguhi hiburan ada musik tradisional seperti kenthongan dan calung,” kata dia.

Sementara itu seorang pengunjung pasar, Suwarno, warga Desa Rempoah, Kecamatan Baturraden, mengaku sangat senang bisa bekunjung ke pasar tradisional tersebut. “Di sini bisa makan makanan yang jarang ditemukan di pasar umum. Banyak tempat bagus juga untuk foto-foto,” ujarnya.

Sementara itu Kepala Dinporabudpar Kabupaten Banyumas, Asis Kusumandani, mengapresiasi Pasar Pinggir Alas. Pasar ini dinilai bisa membuka destinasi wisata digital. “Yang terpenting, jaga kebersihan dan makanan juga harus higienis. Perbanyak juga tempat selfi, upayakan pasar ini memiliki ciri khas tersendiri, jadi tidak terkesan menjiplak tempat lain,” kata dia.(sandi yanuar)