PURWOKERTO, SATELITPOST-Meskipun Kabupaten Banyumas dikenal sebagai sentra pembenihan ikan, tetapi predikat ini tak sebanding dengan usaha pembesaran ikan. Dari produksi pembenihan, tercatat hanya 20 persen ikan yang dibesarkan.

“Untuk pembenihan ikan kita over produksi, karena hanya terserap 20 persen benih ikan yang dibesarkan di Banyumas,” kata Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dinkanak) Kabupaten Banyumas, Sugiyatno, Rabu (13/3).

Banyumas yang menjadi sentra perikanan gurami ini, kata dia, memiliki sentra proses pembenihan dan pembesaran. Daerah pembenihan berada di wilayah utara Banyumas atau di daerah yang dekat dengan kaki Gunung Slamet mulai dari Karanglewas, Kedungbanteng, Cilongok, dan Purwokerto bagian utara. Sedangkan untuk pembesaran berada di bagian selatan seperti Sokaraja, Kembaran sampai ke Kemranjen, dan Sumpiuh.

Persoalan rendahnya tingkat pembesaran ikan di Banyumas, kata dia, disebabkan beberapa faktor seperti lahan yang masih sedikit. Pasalnya, untuk usaha pembesaran ini, masyarakat membutuhkan modal sebagai biaya operasional yang lebih besar, di samping itu juga karena tingginya risiko kematian ikan.

“Kalau untuk pemasaran, saya kira tidak jadi soal. Meski angka konsumsi ikan masyarakat kita terbilang rendah yakni baru 14 kg/hari, tetapi bisa didisitribusikan ke luar Banyumas,” katanya.

Berkaca dari tahun 2018, ia menjelaskan, untuk produksi perikanan budidaya Banyumas sebanyak 10,249 ton. Sedangkan untuk tahun 2019 ini, Dinkanak hanya menargetkan peningkatan produksi sebesar 1,5 persen atau sekitar 10,402 ton.

“Untuk mendorong peningkatan produksi, terutama usaha pembesaran ikan, selain memberikan bantuan pakan misalnya, Dinkanak mencoba mendekatkan atau memudahkan akses permodalan bagi pertani,” katanya.

Sedangkan dalam anggaran Tahun 2019, Dinkanak menyiapkan beberapa upaya untuk mencapai target produksi seperti di antaranya upaya pengembangan perikanan budidaya dianggarkan sebesar Rp 125 juta, pengembangan sarpras dan kawasan perikanan Rp 75 juta, dan pendidikan pencegahan serta pemberantasan penyakit ikan Rp 75 juta.

“Kami juga merencanakan pembangunan atau rehabilitasi sarana prasarana pokok unit pembenihan (UPTD) Kabupaten dengan anggaran sebesar Rp 400 juta,” katanya. (nns)