PROSES pemasangan terpal di lapangan tenis kompleks rumah dinas bupati, Minggu malam (11/3). Rencananya lokasi ini akan dijadikan tempat pembuangan sampah sementara.

PURBALINGGA, SATELITPOST-Purbalingga benar-benar menghadapi situasi darurat sampah paska penutupan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah di Banjaran. Sebagai bentuk pertanggung jawaban, bupati mengubah kawasan rumah dinas menjadi tempat penampungan sampah sementara. Ini menyusul lahan calon TPA di Bedagas, Pengadengan tidak diperkenankan untuk membuang sampah oleh warga setempat.

Pantauan SatelitPost, lapangan tenis di kompleks rumah dinas bupati sudah dipasang terpal. Terpal berwarna merah itu dipasang mengelilingi seluruh sisi lapangan pada Minggu (11/3) petang. Namun, hingga Senin (12/3) siang, belum ada sampah yang dibuang di lokasi tersebut.

Namun, rencana rumah dinas untuk TPS batal dilakukan. Sebab, setelah berkoordinasi dengan berbagai pihak, termasuk dengan warga Bedagas, pemkab menemukan solusi lain. Di antaranya, memanfaatkan lahan milik pemkab di Desa Selabaya, Kecamatan Kalimanah untuk menjadi TPS.

“Sebelum sampah rutin dikirim ke TPA Bedagas, untuk penanganan sampah sementara ditampung di tanah milik pemkab yang ada di wilayah Desa Selabaya, Kecamatan Kalimanah. Sistem penampungan sementara ini dilakukan dengan cara sampah ditimbun,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Dinkominfo) Purbalingga, Drs Sridadi MM, saat peninjauan calon lokasi TPA di Desa Bedagas, Senin (12/3).

Pemkab menargetkan sampah sudah mulai diangkut ke Tempat Pengolahan Sampah Akhir (TPA) di Desa Bedagas mulai hari Kamis (15/3). Sebab, pemkab tengah membeli 12 mesin pemilah sampah yang akan digunakan pada TPS-TPS dan di calon TPA Bedagas.

“Pemkab membeli 12 unit mesin pemilah, yang memisahkan sampah organik dan sampah plastik. Hari ini (kemarin, red) datang dia mesin pemilah, besok (selasa,red) dijadwalkan lima mesin pemilah sudah datang, dan selebihnya pada pekan depan,” kata Sridadi.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Sigit Subroto mengatakan, saat ini pihaknya tengah merampungkan pengerasan jalan masuk menuju TPA sampah Bedagas. Pengerasan jalan dari lokasi Jalan Raya Bedagas–Rembang, masuk sekitar 0,5 kilometer. Areal yang disiapkan pemkab seluruhnya 10 hektare, namun pengadaannya dilakukan secara bertahap.

“Kawasan lahan itu sangat jauh dari rumah penduduk dan diprediksi bisa menampung sampah hingga 30 tahun ke depan,” kata Sigit Subroto.

Kepala Desa Bedagas, Wasito Wastu Yono SH mengatakan, warga Bedagas tidak keberatan jika dibangun TPA di Bedagas. Hanya saja, dengan catatan konsep bangunan sesuai dengan yang disosialisasikan, seperti yang ada di Pati. Bukan hanya dibuang saja, tanpa pengolahan yang bisa berdampak pencemaran lingkungan.

“Lahan di sini sangat jauh dari rumah penduduk, dan kami sangat mendukung. Apalagi, nantinya sesuai rencana pemkab, akan dilengkapi sarana pendukung dan juga dijadikan semacam daya tarik wisata pengolahan sampah,” kata Wasito. ([email protected])