Bukan mengandung boraks. Dan itu hanya pewarna makanan saja. Saking tidak ngertinya penjual.

Rumekso Martiningsih
Kepala SDN Gunung Simping 1

CILACAP, SATELITPOST-Temuan jajanan anak di SD Gunung Simping 1 Cilacap yang mengandung boraks, dibantah oleh Kepala SDN Gunung Simping 1, Rumekso Martiningsih. Menurutnya dari 22 makanan yang dicek, ada dua yang mengandung pewarna.

“Bukan mengandung boraks. Dan itu hanya pewarna makanan saja. Saking tidak ngertinya penjual. Karena dianggap makanan sehat. Karena tahu dan sekarang sudah diganti menjadi tahu putih,” ujarnya, Selasa (5/12) kemarin kepada SatelitPost.

Rumekso mengatakan, setelah adanya temuan pada saat pengecekan dari BPOM dan Dinas Kesehatan, jajanan berupa tahu brontak dan kerupuk karag langsung ditarik dan tidak diperjualbelikan. Untuk tahu brontak, tidak lagi menggunakan tahu kuning, tetapi sudah diganti menggunakan tahu putih.

Makanan tersebut, kata dia, juga sebelumnya tidak dijual setiap hari, karena selalu berganti-ganti jenis makanan. Saat ini, dia menjamin jajanan yang dijual di kantin sekolah, merupakan jajanan yang aman dan sehat.

“Walisiswa resah, dikira kami tidak menjaga keamanan makanan di sekolah. Padahal dengan adanya BPOM datang, kami senang. Karena menjadi tahu makanan yang sehat dan tidak. Tapi saat ini jajanan yang dijual sudah aman,” katanya.

Sebelumnya Badan POM Semarang dan Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap melakukan pengecekan jajanan di tiga sekolah yang yang ada di Cilacap. Hasilnya, di SD Gunung Simping 1 dari 22 sampel jajanan dua di antaranya mengandung rhodamin dan boraks pada kerupuk dan tahu.

Pengecekan di SD Tritih Wetan dengan mengecek sebanyak 16 sampel, satu positif menganding metanil yellow pada kerupuk. Makanan yang mengandung bahan kimia ini tanpa merek sehingga sulit dilacak.

Adanya temuan ini, Dinkes akan memberi imbauan kepada sekolah agar mewaspadai jajanan anak yang mengandung bahan kimia ini. Sehingga meminta kepada sekolah agar penjual tidak berjualan jajanan yang megandung boraks, rhodamin, serta meminta siswa sekolah untuk tidak membeli jajanan tersebut. (ale)

Komentar

komentar

BAGIKAN