Sadewo, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB)

Definisi kebudayaan nasional menurut TAP MPR No.II tahun 1998, yakni: Kebudayaan nasional yang berlandaskan Pancasila adalah perwujudan cipta, karya dan karsa bangsa Indonesia dan merupakan keseluruhan daya upaya manusia Indonesia untuk mengembangkan harkat dan martabat sebagai bangsa, serta diarahkan untuk memberikan wawasan dan makna pada pembangunan nasional dalam segenap bidang kehidupan bangsa. Kebudayaaan merupakan wujud dari karakter bangsa yang menjadi identitas yang melekat pada bangsa itu yang berbeda dengan bangsa lain.

Puncak-puncak hasil budaya, dalam hal ini kesenian, ada yang bernilai adiluhung (tinggi mutunya). Sebagai contoh Wayang kulit merupakan salah satu kesenian tradisi yang tumbuh dan berkembang di masyarakat Jawa. Lebih dari sekadar pertunjukan, wayang kulit dahulu digunakan sebagai media untuk permenungan menuju roh spiritual para dewa. Konon, “wayang” berasal dari kata “ma Hyang”, yang berarti menuju spiritualitas sang kuasa. Tapi, ada juga masyarakat yang mengatakan “wayang” berasal dari tehnik pertunjukan yang mengandalkan bayangan (bayang/wayang) di layar.

Lalu, di wilayah ‘eks karesidenan Banyumas’ ada Wayang Kulit Gagrak Banyumasan.  Sebagaimana masyarakat Jawa pada umumnya, masyarakat Banyumasan juga gemar menonton pertunjukan wayang kulit. Pertunjukan wayang kulit di wilayah Banyumas cenderung mengikuti pedalangan gagrag atau gaya Banyumasan. Seni pedalangan gagrag Banyumasan sebenarnya mirip gaya Yogya-Solo. Bahasa yang dipergunakan pun tetap mengikuti bahasa pedalangan layaknya, hanya bahasa para punakawan diucapkan dengan bahasa Banyumasan. Nama-nama tokoh wayang umumnya sama, hanya beberapa nama tokoh yang berbeda seperti Bagong (Solo) menjadi Bawor atau Carub. Jika dalam punakawan Yogya-Solo, Bagong merupakan putra bungsu Ki Semar, dalam versi Banyumas menjadi anak tertua. Tokoh Bawor adalah maskotnya masyarakat Banyumas.

Kesenian tradisi Banyumasan lainnya, seperti ebeg, laisan/sintren, calung-lengger, angguk, begalan (nasehat pengantin), rengkong (pesta panen) apakah juga adiluhung ? Yang lain, misalnya Bongkel, adalah musik tradisional Banyumasan yang mirip dengan angklung, hanya terdiri dari satu jenis instrumen dengan empat bilah berlaras slendro. Nada-nadanya 2 (ro), 3 (lu), 5 (mo), 6 (nem). Buncis, merupakan perpaduan antara seni musik dengan seni tari yang dimainkan oleh delapan orang pemain. Dalam pertunjukannya diiringi dengan perangkat musik angklung. Para pemain Buncis selain menjadi penari juga menjadi pemusik serta vokalis. Aksimuda adalah kesenian bernapas Islam yang disajikan dalam bentuk atraksi pencak silat yang digabung dengan tari-tarian. Salawatan Jawa menjadi salah satu seni musik bernapaskan Islam dengan perangkat musik berupa trebang Jawa. Dalam pertunjukannya kesenian ini menyajikan lagu-lagu yang diambil dari kitab Barzanzi. Cowongan/ Nini Cowong merupakan upacara meminta hujan. Upacara ini dilakukan bila hujan tidak turun dalam waktu yang sudah cukup lama. Wujud Nini Cowong seperti jaelangkung. Lalu Ujungan, menampilkan atraksi agak mengerikan karena pemainnya saling sabet-sabetan dengan menggunakan rotan.

Mau adiluhung atau enggak itu PR kita untuk menjadi yuri. Yang terpenting, kesenian tradisi maupun seni yang makin berkembang di Banyumas Raya ini tergolong seni Pancasila apa bukan. Jika Pancasila menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa pada nomor satu, maka mestinya seni-seni yang mengarah pada perenungan transendent menjadi hal yang harus kita puji. Nonton pertunjukan dangdut dengan lagu Oplosan, lalu penontonnya beberapa mabuk miras berjoged, ora eling, yang salah itu siapa ? Padahal kita tahu, ajaran kita, eling-eling Banyumasan. Eling lan waspada amat Pancasila nomor 1.

Kenthongan, seni rakyat modern Banyumasan mestinya harus terus dirawat oleh pemerintah daerah, pengusaha, dan pelaku seni itu sendiri. Kesenian baru ini telah mendapatkan tempat dalam berbagai khalayak masyarakat tanah air. Masyarakat Papua juga suka dengan seni ini, dan telah belajar di Banyumas, kembali ke Papua mereka bikin itu peralatan, dengan tembang-tembang khas Papua dan tari-tarian khas Papua pula. Nada angklung yang berlaras slendro atau pelog, dan tersedia pula laras diatonik/solmisasi, tak pelak kesenian dari Banyumasan ini bakal merajalela kemana-mana. Ini sajian kesenian lentur khasanah. Artinya, ia bisa hadir untuk perayaan Maulid Nabi, tapi bisa saja hadir dalam perayaan agama lain.

Yang jelas seni Banyumasan bisa sebagai pemantik semangat kedaerahan, untuk menambah nilai pelangi kebhinekaan. Pertandingan bal-balan antar daerah (masuk divisi PSSI) selalu dimanfaatkan suporter masing-masing dengan seni nyanyi-yel, dan bebunyian musik yang menambah semangat empati daerah, semangat nonton juga semangat main (bagi pemain).

Degup penonton untuk terbungkus ‘rasa nasionalis’ memang lebih terasa saat nonton pertandingan sepakbola ketimbang nonton festival seni. Taruhlah ketika kita nonton sepakbola Indonesia VS Malaysia di semi final SEA Games 2017 kemarin, Indonesia kalah, kita, penonton teve, ikut sedih. Bahkan pemain Indonesia yang ikut berlaga dan kalah itu banyak yang nangis. Dari situ kita tahu, sepakbola adalah pemantik jitu rasa nasionalis.

Begitu pula ketika Indonesia menang atas Brunei pada Piala AFF usia 18 2017 kemarin, pada setiap bola masuk gawang lawan, penonton bergeriap saling kegirangan. Banyak dari mereka yang teriak-teriak gembira dan ngibing di depan teve masing-masing. Ini pertanda bal-balan memang pemantik utama untuk menakar rasa nasionalis kita.

Hal itu berbeda manakala kita nontonTournament of Roses (ToR) yang digelar rutin tahunan di Pasadena, AS. Meski itu adalah festival bunga terbesar sedunia. Indonesia yang selalu tampil memukau penonton (live) dan mendapat berbagai penghargaan. Bahkan tahun 2012, 2013 mendapat penghargaan tertinggi, President Trophy, toh rasa bangga kita sebagai bangsa, baik itu penonton berita teve, pembaca berita koran, dan peserta delegasi (seniman) yang ikut di Pasadena AS tak segeriap gembiranya dengan tontonan olahraga, khususnya bola.

Indonesia punya nyanyian wajib kebangsaan, Indonesia Raya. Tetapi siapakah yang benar-benar patuh pada isi syair lagu tersebut ? Sebab nyatanya, mereka yang masuk bui karena korupsi, juga amat sering menyanyikan lagu tersebut. Belum lagi jika kita wajib hafal lagu wajib Bagimu Negeri, manusia Indonesia seperti apakah yang benar-benar patuh atas petuah syair lagu tersebut ? Mari kita introspeksi.

Komentar

komentar

BAGIKAN