SOEGENG BUDHIARTO

PURWOKERTO, SATELITPOST-Siapa yang menyangka, Kota Purwokerto memiliki tokoh-tokoh hebat dari masa perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia‎. Pantas saja, jika mendapat sebutan Kota Satria, karena memang cukup banyak tokoh-tokoh di kota kecil ini. Seperti satu di antaranya, Soegeng Budhiarto atau Ing Biauw.

Pria yang tinggal di Jalan Wiraatmaja Nomor‎ 46 Purwokerto ini meskipun warga keturunan, tapi ia telah turut mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Bahkan, sejak usia 17 tahun ia turut berjuang dalam peralihan pemerintahan Jepang-Indonesia.

Tubuh kecil, kulit putih dan wajahnya yang berbeda dari orang pribumi, membuatnya mudah menyelusup dalam pertahanan lawan. Sejak kecil, ia pun sudah menjadi anak angkat pimpinan PM Jepang.

Baca Juga: Cerita Pejuang Veteran RI Asal Purwokerto, Keturunan Tionghoa yang Rela Mati Demi Kemerdekaan

Soegeng, seorang veteran pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI) memang seorang keturunan Tionghoa asli Purwokerto. Namun, ia memilih menjadi seorang warga Indonesia dengan memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Ayah Bupati Banjarnegara, Budhi Sarwono ini mengaku sejak kecil, ia sudah begitu mencintai ibu pertiwi, yang membuatnya rela mati demi kemerdekaan Indonesia

Sekitar tahun 1948, saat itu usianya tengah menginjak 21 tahun, Soegeng juga turut mendirikan Polisi Keamanan Tentara Rakyat atau lebih dikenal dengan Corps Polisi Militer Djawa (CPMD) dengan pangkat sersan.

Di CPMD, ia menjalani tugasnya di Pos Rahasia (RHS) yang bermarkas di Kalibagor Banyumas. “Komandan saya saat itu Sersan Mayor Agus Rusdan,” katanya.

Karena postur tubuhnya yang kecil, ia mendapat amanah menjadi penyadap informasi musuh atau sebagai seorang intelijen. Apalagi, statusnya yang juga seorang anak angkat kepala PM Jepang pada waktu itu, membuatnya semakin mudah menjalankan tugasnya.

Ia harus memata-matai gerak-gerik tentra Belanda dan Jepang. Segala informasi yang berkaitan dengan kepentingan bangsa Indonesia, wajib ia sadap. Postur tubuh dan wajah keturunan membuatnya semakin mudah menjalankan tugas. Sebab, tidak ada yang curiga dengan pria bermata sipit, seperti orang asing.

“Orang Belanda maupun Jepang, tidak curiga. Karena tahunya saya China, yang dipikir tidak mungkin membela Indonesia. Padahal saat itu posisi saya sangat penting bagi Indonesia karena mencari informasi musuh,” katanya.

Setiap informasi yang ia dapat, langsung ia kabarkan ke komandan Pos Rahasia Serma Agus Rusdan.‎ Soegeng terus memperjuangkan kemerdekaan bersama veteran pejuang lainnya. Sampai Jepang dan Belanda benar-benar meninggalkan Indonesia.

Pada 15 Agustus 1981, Pemerintah Republik Indonesia memberikan gelar kehormatan sebagai Pejuang Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI) kepada Soegeng. Selain itu, ia‎ juga menerima anugerah Bintang Veteran RI pada Hari Ulang Tahun Legiun Veteran Republik Indonesia (LVRI) yang ke 47 di tahun 2004.‎ (alf)