Banjarnegara AKBP Nona Pricillia Ohei (depan kedua dari kiri) memperlihatkan barang bukti kasus ujaran kebencian di Mapolres Banjarnegara, Rabu (21/2).SATELITPOST/MAULA

BANJARNEGARA, SATELITPOST-Setelah melalui proses panjang, Polres Banjarnegara akhirnya menetapkan dua tersangka kasus dugaan penyebaran informasi ujaran kebencian video berjudul PDIP dan PKI Siap Membantai Umat Islam melalui media sosial Whatsapp. Satu dari dua tersangka adalah oknum aparatur sipil negara (ASN) atau pegawai negeri sipil (PNS) yang ada di Kabupaten Banjarnegara.

Awalnya kami mendapatkan laporan dari PDIP Banjarnegara, setelah itu kami lidik dan akhirnya berkembang penetapan tersangka.

AKBP Nona Pricillia Ohei
Kapolres Banjarnegara

Kedua tersangka adalah A dan S, keduanya resmi menyandang status sebagai tersangka kasus ujaran kebencian. A merupakan ASN di Kabupaten Banjarnegara, sementara S merupakan guru honorer di sebuah sekolah di Banjarnegara.

Baca Juga: Viral Video PDIP-PKI Siap Bantai Umat Islam, PDIP Banjarnegara Laporkan Dugaan Ujaran Kebencian

Kapolres Banjarnegara AKBP Nona Pricillia Ohei mengatakan, penetapan kedua tersangka ini dilakukan terkait dugaan ujaran kebencian kepada PDIP di grup aplikasi Whatsapp ‘Kartuna Semarkid’ adalah seorang ASN. Sebelumnya, polisi juga memeriksa dan memintai keterangan saksi-saksi, termasuk saksi ahli pidana serta ahli bahasa. “Awalnya kami mendapatkan laporan dari PDIP Banjarnegara, setelah itu kami lidik dan akhirnya berkembang penetapan tersangka,” katanya, Rabu (21/2).

Menurutnya, dari laporan tersebut, polisi melakukan penyelidikan untuk memastikan adanya unsur pidana dalam perkara itu. Selain mengumpulkan alat bukti dan memeriksa saksi, polisi juga meminta pertimbangan saksi ahli, baik ahli bahasa, ahli pidana, dan ahli teknologi informasi (IT).

Hasilnya, kasus itu layak dinaikkan ke tahap penyidikan karena memenuhi unsur pidana. Sebab video itu dianggap berpotensi memecah belah umat dan menebar kebencian, termasuk ke sesama umat Islam.

Dikatakannya, A dam S dituduh menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan di masyarakat berdasarkan suku agama ras dan antargolongan (SARA) sesuai pasal 28 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Keduanya didakwa melanggar pasal pasal 45 ayat 2 UU Nomor 11 Tahun 200 dengan ancaman penjara paling lama 6 tahun dan atau denda paling banyak satu miliar.

Sebelumnya, Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Banjarnegara Nuryanto mengatakan, awalnya dia mendapatkan laporan akan adanya unggahan video di sebuah grup Whatsapp (WA) yang dinilai provokatif. Tidak hanya itu, video tersebut ternyata juga muncul di facebook meski akhirnya dihapus.

“Awalnya saya menerima laporan dari saudara Wahyu Sulistiyanto, Sabtu kemarin, dia mengatakan bahwa ia menerima kiriman video melalui grup WA yang dinilai bertujuan memprovokasi, ujaran kebencian dan memecah-belah PDI Perjuangan dengan umat Islam,” kata Nuryanto.

Dikatakan, video tersebut covernya bergambar lambang PDI Perjuangan dan gambar lambang PKI, tidak hanya itu, pada gambar tersebut juga ada tulisan ‘PDIP dan PKI siap Membantai Umat Islam’.

Simak Video: Penyebar Video PDIP-PKI Siap Bantai Umat Islam Ternyata Seorang PNS?

“Sebelum kami laporkan ke polisi, kami sudah membahas dulu di tingkat internal, sehingga diputuskan untuk mencari keadilan dengan melaporkan orang tersebut ke Polres Banjarnegara. Laporan sudah direspons dengan baik oleh Polres Banjarnegara,” katanya.

Menurutnya, unggahan tersebut sangat merugikan dan tidak berdasar. Sebab mayoritas pengurus dan anggota PDI Perjuangan beragama Islam. Muatan dalam cover video itu dinilai mengandung unsur ujaran kebencian, memprovokasi, dan hendak memecah-belah PDI Perjuangan dengan umat Islam.

”Kami berharap laporan ini ditindaklanjuti. Selain itu, kami juga mengimbau kepada semua pihak untuk bijaksana dalam menggunakan media sosial. Gunakan media sosial untuk hal yang positif, bukan fitnah,” katanya. ([email protected])