WARGA menyetorkan sampah ke Bank Sampah Inyong di Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden, Banyumas, Senin (14/1). HUMAS PEMKAB
WARGA menyetorkan sampah ke Bank Sampah Inyong di Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden, Banyumas, Senin (14/1). HUMAS PEMKAB

Bentuk Bank Sampah Lingkup RW

BATURRADEN, SATELITPOST-Berawal dari pengelolaan sampah lingkup RT, Bank Sampah Inyong yang terletak di Gang Remaja RT 1 RW 2, Desa Kutasari, Kecamatan Baturraden berubah menjadi bank sampah yang dikelola lingkup RW. Mereka membentuk bank sampah setelah darurat sampah yang terjadi di Kabupaten Banyumas.

Menurut Ketua Pengelolaan Bank Sampah Inyong, Nurhayati, bank sampah yang didirikan warganya semata-mata atas kepedulian terhadap kebersihan lingkungan, di mana dia selalu merasa risih jika ada sampah yang berserakan. “Hati saya merasa kurang nyaman jika melihat sampah berserakan, saat itu suami saya Ketua RT, kemudian akhirnya kami membuat bank sampah ini,” ujarnya, Senin (14/1).

Lambat laun, dengan banyaknya masyarakat yang melihat kebersihan di lingkungan RT tempat Nurhayati tinggal, akhirnya banyak warga yang berminat untuk menyetorkan sampahnya ke bank sampah. “Akhirnya warga satu RW ikut menabung di bank sampah,” kata dia.

Walaupun sudah berdiri sampai saat ini, terkait konsep bank sampah tersebut masih banyak masyarakat yang kurang paham. Mereka berpikir bank sampah tersebut seperti pengepul rongsokan yang ketika menyetorkan akan mendapatkan uang dari pengelola bank sampah.

“Masyarakat di sini macam-macam ada yang memang ditabung, ada yang langsung minta dibayar, bahkan ada yang minta barter dengan beras dan jajanan. Semua saya layani karena kebetulan saya juga berjualan,” kata dia.

Meski dijadikan tempat barter, Nurhayati tetap senang, karena dengan adanya bank sampah ini banyak masyarakat yang menabung sampah hingga kemudian ditukarkan di bank sampah Inyong. “Itu merupakan kepedulian warga terhadap sampah yang ada di sekitarnya. Jadi masyarakat lebih peduli dengan lingkungan,” ujarnya.

Meski pengelolaan bank sampah dilakukan secara mandiri, namun perhatian dari berbagai pihak membuat bank sampah tetap berjalan. Di antara partisipasi publik ialah bantuan mesin pencacah sampah organik berukuran sedang, ada juga mesin composer yang berada di bank sampah. Alat ini membuat pekerjaan pengelola bank sampah bisa lebih ringan.

“Proses pengelolaan sampah di sini dibagi menjadi dua bagian, sampah organik dan anorganik. Dalam pengelolaan sampah organik menggunakan mesin pencacah, setelah itu sampah difermentasikan dan ditambahkan zat aktivator hingga menghasilkan kompos,” kata dia.

Menurut Nurhayati, cukup banyak pesanan yang datang untuk pupuk kompos. Kalaupun tidak ada pesanan, dia menggunakan kompos yang dihasilkan untuk sendiri. “Untuk sampah anorganik sebagian besar dijual lagi dan sebagiannya lagi digunakan menjadi kerajinan tangan,” ujarnya.

Warga RT 2 RW 2, Aris, mengaku sering datang ke Bank Sampah Inyong. Hari Senin kemarin dia membawa satu karung sampah untuk diserahkan ke bank sampah yang dikelola Nurhayati. “Saya rutin menabung sampah di sini, karena setiap melihat sampah di jalan saya pungut. Selain untuk keindahan dan kebersihan tetapi juga memberi berkah buat saya, karena mempunyai tabungan dari sampah,” kata dia.(sandi@satelitpost.com)