Oleh : Lukman Hakim,                                      

Setiap tengah malam, setelah penjaga sekolah tertidur. Terjadi keanehan di ruang perpustakaan SD Negeri. Buku-buku mempunyai tingkah laku seperti manusia. Layaknya manusia, mereka terlihat mengobrol. Obrolan yang selalu sama. Saling menyombongkan diri masing-masing.

“Asal kalian tahu! Anak-anak lebih menyukaiku. Mereka sangat mengagumi tokoh-tokoh cerita di novel. Penulis novel juga banyak yang terkenal seperti Andrea Hirata, Mira W, dan Tere Liye. Ini yang buat mereka tertarik meminjamku,” ucap sombong Buku Novel. Sambil menepuk dada dengan tangan kanan.

Mendengar ucapan Buku Novel, buku-buku lain saling menatap satu sama lain. Seketika pecah tawa mengejek dari mulut mereka. “Ha..ha..ha.”

“Kamu terlalu percaya diri, Buku Novel! Anak-anak justru lebih menyukaiku! Alasannya? Setiap menjelang lomba baca puisi. Buku yang sering dibaca dan dipahami pastilah Buku Puisi. Mereka juga sering memperagakan gaya baca puisi Chairil Anwar, WS Rendra, dan Mustofa Bisri,” ucap ketus Buku Puisi.

“Ha..ha..ha! Aku tertawa geli melihat kesombongan kalian. Kuakui, kalian termasuk buku kesukaan anak-anak. Tapi, bicara penting mana antara aku dengan kalian? Jawabannya pastilah aku, Buku Pelajaran! Karena kalian hanya dibaca disela-sela waktu. Sedangkan aku dibaca setiap saat, baik pada waktu pembelajaran maupun saat mengerjakan tugas rumah,” ucap sombong Buku Pelajaran. Sambil sedikit mengangguk-anggukan kepala.

Saat Buku Novel, Buku Puisi, dan Buku Pelajaran serius ngobrol. Buku Dongeng memberanikan diri mendekat. Bergabung dengan mereka.

“Hai kalian lagi ngapain?” potong ramah Buku Dongeng. Di sela-sela obrolan mereka.

Beberapa saat, buku lain menatap sinis pada Buku Dongeng. Tanda tidak suka padanya.

“Ngapain kamu ke sini?”

“Maaf! Aku hanya ingin bermain dengan kalian.”

“Enggak sudi bermain denganmu. Sana menjauh!”

Buku Dongeng pun sedih. Terpaksa menjauh karena diusir oleh teman-temannya. Menghindari hinaan yang lebih menyakitkan. Kembali ke pojokan rak buku. Menyendiri dan membisu.

Keesokan hari, sebelum jam pertama pelajaran dimulai, guru menyuruh anak mengambil beberapa buku di perpustakaan. Untuk dibaca di kelas. Kegiatan ini rutin dilakukan. Setelah pemerintah menggalakkan gerakan literasi. Saat mengambil buku, petugas memberitahu ada buku baru Ensiklopedia. Anak-anak langsung menyukai buku tersebut. Karena terbitan terbaru, cover depan juga bagus. Kertas berwarna-warni. Disertai gambar yang menarik. Buku itu sumbangan dari perpustakaan Taman Bacaan Masyarakat.

Seperti biasa setelah tengah malam, buku-buku asik ngobrol. Hanya Buku Dongeng menyendiri di pojokan rak buku. Terlihat murung. Sedih. Melihat keanehan ini. Buku Ensiklopedia mendekatinya. Karena penasaran.

“Hai namaku Buku Ensiklopedia..” sapa ramah Buku Ensiklopedia.

“Hai juga, namaku Buku Dongeng,” jawab lesu Buku Dongeng.

“Kenapa kamu enggak bermain dengan mereka?”

Belum menjawab pertanyaan dari Buku Ensiklopedia. Tiba-tiba mereka didatangi buku-buku lain.

“Hai buku baru! Jangan kamu dekati Buku Dongeng itu!” teriak Buku Pelajaran.

“Apa maksud kalian?” Buku Ensiklopedia merasa bingung.

“Dia kan buku yang kotor dan berdebu.” seru Buku Puisi.

Di antara buku yang lain. Buku Dongeng termasuk buku yang kotor dan berdebu. Karena jarang dipegang dan dibaca oleh anak-anak. Sebab buku kuno. Kurang menarik. Kertas masih buram. Kalau pun ada gambar, masih hitam putih. Hal inilah yang sering menjadi bahan ejekan buku-buku lain.

“Mungkin di tempat ini Buku Dongeng jarang dibaca. Tapi, di tempatku yang dulu dia paling laris dibaca,” bela Buku Ensiklopedia.

“Kenapa dia laris dibaca oleh anak-anak?” potong Buku Novel tidak percaya.

“Di sana, pengelola dan relawan mulai menggali manfaat mendongeng. Yang mulai ditinggalkan, diganti dengan dunia game. Cerita mendongeng diambil dari buku dongeng klasik maupun modern. Setelah dipraktikan mendongeng, anak-anak senang. Kecerdasan mereka pun meningkatkan, terutama bahasanya, matematika, dan musik; pengetahuan hewan dan tumbuhan.

Setelah mendengar penjelasan darinya. Mereka menyesal telah menganggap remeh Buku Dongeng. Mereka juga menyadari bahwa setiap buku, punya kelebihan masing-masing.

“Maafkan kita, Buku Dongeng! Sering menghinamu,” ucap maaf Buku Pelajaran dan lainnya.

Buku Dongeng hanya menganggukkan kepala. Tanda memaafkan. Kesedihan itu seketika sirna, berubah menjadi gembira. Ia merasa senang, akhirnya mereka mau berteman dengannya. (*)