Little Boy Student Smiling Standing With His Bagpack Back To School Clipart

Liburan sekolah sudah usai. Esok lusa sudah masuk sekolah. Hanif bingung. Karena ia belum memiliki perlengkapan sekolah baru apa pun.

Hanif menjadi khawatir. Kalau kalau ia nanti sekolah memakai perlengkapan sekolah yang lama kembali.

Tapi kekhawatiran Hanif  pun hilang seketika. Karena ia teringat jika memiliki celengan. Dimana ia menabung di celengan miliknya setiap hari. Jika ada sisa uang saku ia tabungkan di celengan itu seusai sepulang sekolah.

Akhirnya Hanif langsung ke kamarnya. Ia ingin mengambil celengan kodoknya yang disimpannya di dalam lemari pakaian. Lalu memecahkan celengan itu.

Prakkk…!!!

Dipecahkannya celengan kodok itu. Hanif melihat uang kertas dan logam berhamburan hingga keluar dari kamarnya. Ia merasa takut bila nanti diketahui Bunda. Sebab, ia memecahkannya tanpa sepengetahuan Bunda. Walaupun celengan kodok itu miliknya sendiri.

Dan Bunda akhirnya pun mengetahuinya. Karena mendengar bunyi keras sekali. Bunda pun mencari suara itu terjadi. Ternyata Bunda melihat Hanif sedang memunguti uang di lantai.

“Sayang, kenapa dipecahkan celengannya?” tanya Bunda penasaran.

Hmm…a-aku ma-mau…” jawab Hanif gelagapan saat mendadak Bunda menanyakan tentang tujuan memecahkan celengan kodok miliknya.

“Lho, kamu malah ketakutan, Sayang! Itukan milik kamu. Itu hasil kamu menabung. Jadi kenapa kamu ketakutan,” ucap Bunda. “Bunda hanya bertanya, kamu untuk apa memecahkan celengan kamu? Lagi pula Bunda tidak akan marah jika memang kamu membutuhkannya.”

Ah…Lega! Pikir Hanif. Ternyata Bunda tidak memarahinya saat Hanif memecahkan celengan kodok miliknya karena ingin membeli tas baru untuk sekolah.

“Aku mau beli tas baru untuk sekolah, Bunda. Apalagi lusa sudah mau masuk sekolah. Tasku yang lama kan sudah robek, Bunda! Bolehkan aku memakai uang tabunganku ini untuk membelinya?” Hanif memastikan lagi pada Bunda.

“Silakan, Sayang! Inikan uang kamu! Kamu mau belanjakan apa saja silakan asal yang bermanfaat dan berguna. Seperti kamu ingin membeli tas baru untuk sekolah! Bunda sangat setuju. Apalagi ini hasil kamu menabung setiap hari. Bunda mengizinkannya kok!” tukas Bunda.

Hanif akhirnya pergi ke toko tas yang berada di seberang jalan rumah dengan memakai sepeda. Uang hasil ia menabung dicelengan kodok sudah di kantong celananya. Uang yang ia tabung cukup untuk membeli tas baru untuknya. Dan ia pun menghampiri toko tas itu.

Tapi setiba di toko tas Hanif melihat seorang anak kecil yang sedang menangis kencang pada seorang perempuan muda. Mungkin itu ibu si anak yang menangis itu.

Anak itu pun terus menangis sambil memukul-mukul ibunya. Terdengar suara lirih anak itu pada Ibunya. “Aku mau sekolah Ibu! Aku mau sekolah! Aku ingin dibelikan tas baru itu,” anak yang mungkin berusia tujuh tahun itu terus meraung-raung sambil memukul-mukul Ibunya kembali untuk dibelikan tas di toko tas yang berada di depan mereka.

Hanif yang melihat anak itu menangis meraung-raung pun mendekati ibunya. Dengan penuh rasa kasihan melihat anak itu menangis terus menerus Hanif pun menyapa.

“Ibu kenapa anaknya tidak dibelikan tas?” tanya Hanif polos.

“Ibu tidak punya uang sama sekali, Nak! Apalagi seusai rumah kami kebakaran tidak lagi yang tersisa untuk diselamatkan. Sekarang saja ibu masih tinggal dipenampungan,” panjang lebar ibu itu pun mengutarakan sesungguhnya apa yang terjadi.

Ternyata mereka korban kebakaran yang menghanguskan banyak rumah dalam satu kampung. Dikarenakan salah satu warga lupa mematikan kompor gas saat meninggalkan rumah.

Hanif yang mendengarkan pun ikut merasakan. Hingga tangannya meraba-raba kantong celana lalu mengambil uang hasil tabungannya itu untuk si ibu tadi.

Akhirnya Hanif tidak jadi membeli tas baru. Lagi pula tasnya masih bisa digunakan walaupun robek sedikit. Ia lebih baik menolong anak itu ketimbang membeli tas baru.

“Terimalah Bu. Ini uang dari saya! Tolong ibu belikan tas untuk anak ibu itu,” ucap Hanif langsung memberikan ke tangan ibu itu.

“Terima kasih, Nak! Ini ada anyaman buatan Ibu. Terima ini juga ya, Nak.”

Usai itu Hanif meninggalkan mereka.

“Semoga Bunda tidak memarahiku nanti…” gumam Hanif sambil mengayuh sepeda dengan pelan tanpa membeli tas baru.(*)