Ilustrasi

Mila sedang mematahkan ranting-ranting di halaman rumah. Wajahnya merah padam. Seharusnya, ia tidak meminjamkan bukunya pada Nina. Nina tidak menjaga buku kesayangannya baik-baik.

Tiba-tiba ada sebuah tepukan di bahunya. Mbak Endang.

“Hah, hah, hah..” tangan mbak Endang bergerak cepat.

Mila menggeleng, “Aku nggak haus mbak.”

Mbak Endang segera masuk rumah. Mila lanjut meremukkan daun. Amarahnya belum hilang. Kemudian, Mbak Endang kembali dengan segelas es jeruk segar dan menyodorkan pada Mila. Memaksanya meneguk minuman. Mila menyerah, mengambil gelas, meneguk es jeruk yang terasa segar di tenggorokannya. Setelahnya, hatinya merasa lebih baik.

Mbak Endang tersenyum. Mila mau tidak mau juga ikut tersenyum.

***

Mila lebih senang menyebut Mbak Endang ini temannya, dibandingkan asisten rumah tangga. Tante Ros yang mengenalkannya pada Bunda. Tante bilang, Mbak Endang pernah terkena musibah semasa kecilnya. Suaranya hilang akibat itu. Tapi jangan ditanya soal kecakapannya. Mbak Endang pintar sekali memasak. Cekatan mengurus rumah. Juga senang bermain dengan anak kecil.

Bunda menyukai Mbak Endang pada pandangan pertama. Begitu juga papa dan Mila. Mereka tidak peduli meski hanya kalimat hah, hah, hah yang mampu dikeluarkan Mbak Endang. Mereka paham. Mbak Endang juga paham dengan apa yang mereka ungkapkan. Bahkan apa yang tidak bisa Mila ungkapkan. Apalagi di bulan ini, Bunda dan Papa sedang sibuk-sibuknya bekerja.

Seperti sore itu, saat Nina datang menemuinya. Mila bersikeras tidak mau bertemu.

“Hah, hah, hah..” mbak Endang menarik tangan Mila. Ada Nina di luar. Teman baiknya. Masak tidak mau ditemui? Begitu kira-kira kata mbak Endang.

“Aku malas ketemu Nina,” ungkap Mila

Mbak Endang menatapnya lekat-lekat.

Mila menggeleng. “Aku lebih butuh bukuku.”

Mbak Endang menunjuk setumpuk buku Mila. Sudah terlalu banyak. Hilang satu buku tidak akan terlalu berpengaruh.

Mila mengerucutkan bibirnya beberapa senti. Sementara, tidak lagi terdengar suara teriakan. Mbak Endang memeriksa di depan pintu. Nina sudah tidak ada. Sebagai gantinya, tergeletak sebuah buku.

Mila bersungut-sungut di belakang mbak Endang.

“Sudah aku duga mbak,” omel Mila, “Nina akan mengganti bukuku dengan buku yang lain. Tidak tahu apa kalau buku yang hilang itu istimewa. Aku nggak mau buku yang lain.”

Mbak Endang geleng-geleng kepala. Ia memaksa Mila mengambil satu buku itu. Mila menerimanya setengah hati. Tetap sambil bersungut-sungut.

***

Keesokan harinya di hari Minggu, saat Mila sedang bergulung malas di dalam selimut. Mbak Endang seketika muncul. Menyingkap selimutnya. Lalu menarik tangannya. Mila yang matanya masih lengket, cemberut bukan main.

“Ada apa sih mbak?”

“Hah, hah, hah..” mbak Endang menunjuk ruang tamu.

“Ada siapa?”

Mbak Endang tidak menjawab. Lanjut menarik tangan Mila. Membawanya ke hadapan Nina. Mila bengong. Nina di hadapannya tersenyum kikuk.

“Hai,” sapa Nina. Mila menarik bibirnya sedikit. Nina menyodorkan sebuah buku, “Ini bukumu. Aku ganti.”

“Tidak perlu. Kamu sudah menggantinya kemarin,” ketus Mila.

Nina menghela napas. Ia menjelaskan dengan terbata-bata. Buku kemarin bukan pengganti. Itu hadiah permintaan maaf.

“Kemarin aku ingin bilang langsung,” ungkap Nina, “Tapi kamu lama sekali keluar. Sedang ibu menunggu titipannya di rumah. Jadi terpaksa aku hanya menggeletakkannya saja di teras.”

Mila tidak merespon. Ia masih memandangi Nina dengan tatapan tidak bersahabat. Membuat Nina tidak berlama-lama di rumah Mila.

Mbak Endang sebal melihat tingkah Mila. Ia lekas mengambil bulpen dan kertas. Menulis cepat, dan menyerahkannya pada Mila.

Mila menerimanya dengan dahi mengernyit.

“Mila, aku pikir kamu keterlaluan. Nina sudah susah payah membeli buku pengganti. Memberimu buku hadiah. Menemuimu dua kali. Juga, memberimu penjelasan.”

Mila hendak membantah. Tapi sebuah kertas terjatuh dari buku pemberian Nina.

“Sekali lagi aku minta maaf. Buku kesayanganmu ternyata dibawa adik sepupuku yang sedang main ke rumah waktu itu. Ini aku belikan buku yang sama persis, pakai tabunganku. Kumohon, maafin aku ya Mila. Dari dulu, sampai nanti, kamu itu teman baikku.”

Mila menatap mbak Endang. Hatinya diliputi rasa bersalah, “Apa Nina akan memaafkanku?”

“Hah, hah, hah..” Mbak Endang tersenyum, tentu saja.

“Aku harap begitu,” ujar Mila sedih. Benar kata Mbak Endang. Ia sudah keterlaluan. Pertama, ia menuduh Nina tidak bertanggungjawab. Kedua, ia tidak mengira bahwa Nina akan menggunakan uang tabungannya

Mbak Endang menepuknya. “Hah, hah, hah..”

Mila mengerti. Waktunya mandi. Setelah rapi dan wangi, ia akan segera menemui Nina. Tapi sebelum itu, ia memeluk Mbak Endang. Terima kasih katanya, selalu membantu kapanpun Mila butuh. Terutama bantu mengingatkan. Mbak Endang balas memeluknya.(*)

Oleh: Ana Falesthein Tahta Alfina