Oleh : Sikhah

 

“Mama!” teriak Elo memanggil mamanya.

“Hmm, kenapa?” tanya mama pura-pura tidak tahu.

Beberapa minggu ini Elo sering mengompol. Kasur selalu basah dan bau. Hampir tiap hari mama dibantu Bi Imah menjemur kasur Elo. Berbeda dengan adiknya Fatah, sudah tidak mengompol padahal usianya masih dua tahun.

“Elo mandi dulu ya ma!” kata Elo tanpa disuruh.

Mama tersenyum. Mama memang tidak pernah marah pada Elo. Sudah beberapa kali membuat kesalahan termasuk kebiasaan mengompol Elo, senyum mama yang selalu diperlihatkan.

“Bu, saya carikan capung ya!” kata Bi Imah suatu hari.

“Capung?” kaget mama mendengarnya.

“Iya bu, ditempat saya kalau ada yang ngompol terus, pusarnya

ditempeli capung!” Bi Imah menjelaskan.

Pulang sekolah, seperti biasa Elo ke warung membeli es. Mama sudah menasehati Elo untuk tidak minum es. Namun Elo tidak bergeming.

“Bi Imah!” panggil Elo ketika pulang sekolah.

Bi Imah kaget. Buru-buru ia menyembunyikan tangannya dilbalik punggung. Hampir saja Elo mengetahui. Mama sudah berpesan jika Bi Imah mencari capung harus sembunyi-sembunyi.

“Sudah pulang mas!” kata Bi Imah dengan logat jawanya.

“Iya Bi!” jawab Elo.

Saat malam Elo sudah berada di kamar, mengerjakan tugas dari sekolah. Jam dinding masih menunjukkan pukul delapan malam. Mata Elo sudah mengantuk.

“Masuk Bi Imah!” ajak mama berbisik.

Bi Imah menuruti perintah mama. Mama berhati-hati membuka pintu kamar Elo. Bi Imah mengikuti dari belakang. Elo tampak pulas. Sekali-kali membalikkan badannya kekanan dan kekiri.

“Mana capungnya Bi Imah?” tanya mama pelan.

Bi Imah mengeluarkan capung dari dalam wadah. Kali ini Elo tidur dengan terlentang. Mama pelan-pelan membuka baju Elo. Dan dengan cepat Bi Imah mendaratkan capung pada pusar Elo.

“Oww, sakiit..!” teriak Elo.

Mama dan Bi Imah pun kaget. Lebih kaget lagi kasur Elo kembali basah. Ngompol lagi.

“Baru jam sepuluh sudah ngompol” ujar mama.

“Maaf!” kata Elo sambil melangkah ke kamar mandi.

Pagi hari kembali mama dibantu Bi Imah menjemur kasur. Elo menghampiri mama. Menunduk malu, dan merasa bersalah.

“Maaf ya ma!” kata Elo.

“Sudah, tidak apa-apa!” ucap mama lembut.

“Bagaimana kalau nanti malam mama bangunkan Elo?” tanya

mama.

“Untuk apa ma?” Elo balik tanya.

“Mau apa tidak?” tanya mama lagi.

Elo mengangguk. Kemudian pamit berangkat sekolah. Mengayuh sepedanya bersama teman-teman.

“Elo!” panggil Dana  setiba di sekolah.

“Hai Dan!” sahut Elo.

“Gimana Lo, kamu hari ini ngompol ngga?” bisik Dana.

Elo memang sering bercerita dengan Dana tentang kebiasaan mengompolnya. Dana dapat menyimpan rahasia cerita apapun dari Elo. Karenanya mereka menjadi teman akrab.

“Ya!” angguk Elo.

“Nanti juga berhenti, Lo!” hibur Dana.

Malam hari Elo menunggu rencana mama untuk menghentikan kebiasaan mengompolnya. Selesai mengerjakan tugas Elo beranjak tidur. Lama juga matanya mau terpejam. Akhirnya Elo terlelap.

“Elo, bangun!”  bisik mama.

“Ahh!” sahut Elo dengan mata masih terpejam.

“Elo, Elo!” panggil mama sambil menggoyangkan tubuh Elo.

“Baru jam sembilan ma!” kata Elo bermalas-malas.

Akhirnya Elo bangun. Menuju kamar mandi. Mama menunggu hingga Elo tidur kembali.

“Elo!” suara mama memanggil kembali.

“Ma!” sahut Elo.

Terlihat jam dinding menunjukkan jam dua belas malam. Mata Elo begitu berat untuk di buka. Mama mencoba memegang tangan Elo dan mengarahkan ke kamar mandi.

Pagi-pagi seperti biasa Elo sudah bangun. Kedua tangan Elo meraba tempat tidur dengan mata dipejamkan.

“Mama Elo sudah tidak ngompol!” teriak Elo.

Mama tersenyum, dan mengacungkan dua jempol. Bi imah bernafas lega, hari ini tidak ada jadwal menjemur kasur.(*)