Di lapangan sepak takraw sudah banyak anak berkumpul. Para wasit dan panitia mondar-mandir mengurusi sesuatu. Nampak, anak-anak yang akan bertanding bergembira ria berkenalan sesama peserta.

Di sudut lapangan Andri, Riyan, dan Panggih memencilkan diri. Mereka murid SD Babakan kelas V mewakili sekolahnya sebagai peserta. Yang satu lagi yaitu Frans turut sebagai peserta. Mereka bertanding pada ajang POPDA tingkat kabupaten.

“Yan…, kita pasti kalah! Lihat saja seragam mereka itu!” kata Andri dengan cemas.

Riyan melihat sekeliling dan memperhatikan saingan-saingan yang akan bertanding.

“Percuma pak Iwan mengirim kita ke sini, kita pasti kalah,” sambung Panggih.

“Hahh,” sambung Riyan mengiyakan pendapat mereka,“Lihat saja sepatu mereka. Kita tidak mempunyai sepatu sebagus itu.”

“Itulah. Bagaimana kita mau menang?” sambung Andri.

“Sepatu saja sudah rusak begini,” gerutu Riyan.

“Jangankan sepatu, pakaian kita saja begini,” sambung Panggih mengeluh.

Sementara mereka bercakap-cakap, terdengar suara Frans memanggil.

“Woi! Ayo kumpul ke mari!”

Frans mendatangi mereka. Di belakangnya menyusul pak Iwan. Pak Iwan mendatangi Andri, Riyan, dan Panggih yang masih duduk di pinggir lapangan.

“Kalian ke mana saja?” tanya pak Iwan.

“Malas pak guru,” Jawan Andri.

“Lhoo, kenapa kok malas?” tanya pak Iwan heran.

“Sepatu mereka bagus pak, sementara kita?” sahut Riyan.

“Seragam mereka juga bagus pak, memakai nama sekolah masing-masing. Tapi kita hanya memakai seragam olahraga sekolah,” sambung Panggih.

Pak Iwan hanya tersenyum. Ia memperhatikan muridnya satu persatu.

“Anak-anak,” katanya tenang.

“Dengarlah pesan bapak. Kemenangan tidak bergantung pada pakaian dan sepatu. Bukan pada pakaian yang mentereng. Tetapi pada semangat juang kalian dan pola pikir untuk selalu menang!” katanya menyemangati mereka. “Semangat!”.

“Betul pak guru!” sambut Frans.

“Saya juga tidak mempunyai mempunyai sepatu yang bagus. Tapi saya mencoba memenangkan perlombaan ini.”

“Ayo teman-teman kita harus memenangkan perlombaan ini!” kata Frans menyemangati mereka.

“Ayo bangkit kawan!” sambut Andri sambil menjabat tangan Riyan dan Panggih.

Mereka pun akhirnya bangkit dari keterpurukan. Kembali bersemangat. Muka mereka kembali cerah. Senyum kembali datang. Dan akhirnya mereka kembali tersenyum lebar.

“Priittt….priitttt!” tanda pertandingan segera dimulai. Anak-anak bersorak ramai. Tepuk riuh dan sorak sorai berkumandang di angkasa.

Semua jago-jago dari SD/MI se kabupaten bertanding sekarang. Mereka terbagi dalam beberapa kelompok. Setiap kelompok akan diambil satu tim yang akan melaju ke babak selanjutnya. Dari hasil ini akan diambil yang menang. Mereka akan bertanding pada babak final. Dan akan diambil sebagai juara POPDA cabang sepak takraw tahun ini.

Anak-anak SD Babakan bersorak sorai kegirangan. Mereka meloncat menyambut kemenangan atas timnya pada babak final. Frans, Andri, Riyan, dan Panggih berhasil menjadi juara. Mereka melakukan sujud syukur.

Esoknya di halaman sekolah. Di depan para murid dari kelas I-VI. Pak guru berkata kepada anak-anak :

“Anak-anak,” katanya sambil menunjuk Frans, Andri, Riyan, dan Panggih.

“Inilah jagoan kita!” anak-anak bersorak sorai dambil bertepuk tangan.

Pak guru melanjutkan :

“Contohnya mereka. Mereka mendapat kemenangan. Walaupun lawan-lawannya bersepatu bagus, berpakaian mentereng. Namun mereka bertekad merebut kemenangan. Mereka pantang menyerah. Pertandingan demi pertandingan mereka lalui dengan semangat. Sampai akhirnya mendapat juara.” Anak-anak bertepuk riang.

Kini berkat kemenangan mereka, adik-adik kelas mulai suka terhadap permainan sepak takraw. Mereka giat berlatih. Sampai akhirnya SD Babakan menjadi pusat pelatihan sepak takraw junior.(*)

Oleh : Fajar Pujianto

Guru dan Penggiat Literasi