Vina cemberut. Ia tak setuju bila ibunya sering ke sekolahnya untuk mengambil dan mengantarkan cucian pesanan ibu gurunya. Ia merasa malu jika ibunya harus datang ke sekolah membawa tas berisi pakaian dan korden kotor.

“Pokoknya mulai besok Vina gak mau lagi melihat Ibu ke sekolah mengambil cucian,” tukas Vani cemberut. “Vina malu. Teman-teman semua selalu mengejek Vina sebagai anak tukang cuci.”

“Kenapa kamu malu, Nak? Bukankah pekerjaan ibu halal?” ujar ibunya kaget. Ibu tak mengira Vina akan bersikap seperti itu.

“Pokoknya Vina tetap gak mau. Kalau ibu tetap ke sekolah mendingan Vina pindah aja ke sekolah lain,” jawab Vina ketus.

Vina masih teringat kata-kata Afan dan Rido. Mereka mengatakan tukang cuci itu pekerjaannya orang-orang yang tak bersekolah. Mereka harus mencuci setiap pagi dan sore pakaian orang lain. Upahnya sangat kecil, bahkan kadang cuma dikasih imbalan beras.

“Tukang cuci di rumahku namanya Mbok Minah. Dia cuma mendapat bayar lima belas ribu sekali nyuci dan dikasih makanan,” kata Afan mengejek di depan Vina.”Berapa upah ibumu?”

Sebenarnya Vina tahu pekerjaan ibunya tidak sama dengan Mbok Minah. Mbok Minah mengerjakan pekerjaannya dengan menggunakan tangan dan peralatan seadanya. Sedangakan ibunya mencuci semua pakaian dengan mesin cuci. Namun tetap saja tukang cuci namanya ya tukang cuci. Itulah yang membuat Vina menjadi malu. Ibunya disamakan dengan Mbok Minah, pikirnya.

Semua orang di desanya tahu, Ibu Vina adalah seorang yang rajin dan mau bekerja keras. Meski dirinya seorang sarjana ekonomi, namun ia tidak bekerja di kantoran. Melainkan membuka usaha loundri di rumahnya. Usahanya cukup maju dan banyak pelanggannya. Dengan membuka usaha di rumah, dirinya tidak perlu banyak menghabiskan waktu di kantor atau di perusahaan. Waktunya banyak digunakan di rumah berkumpul bersama keluarga.

Karena ibu sangat sayang Vina, sejak itu juga ibunya tidak lagi ke sekolah. Sebenarnya Ibu Vina sangat menyayangkan. Karena dengan begitu berarti ia telah kehilangan sebagian pelanggannya. Dan itu berarti telah berkurang juga sebagian penghasilannya. Tapi demi keinginan anak yang disayanginya, ibu Vina berkeputusan tidak mengambil cucian di sekolah.

Vina sangat lega hatinya. Kini ia tidak pernah lagi melihat ibunya ke sekolah mengambil pakaian kotor dengan keranjang besarnya untuk dicuci. Tak ada lagi teman-temannya yang mengolok-olok ketika ibunya datang ke sekolah. Tenang sudah kini perasaannya.

***

Siang itu selesai mengikuti pelajaran olah raga Vina ke warung Bu Surti. Ia ingin sekali membeli minuman dan jajan seusai mengikuti olah raga. Bersama Rayi dirinya menuju warung yang ada di sebelah sekolah. Itu warung Bu Surti, ibu Ratih. Ratih adalah teman sekelasnya.

Sesampai di sana, warung sudah berjejal teman-temannya yang juga mau jajan. Bu Surti tampak begitu sibuk melayani pembelinya. Di dalam tampak Ratih sedang sibuk juga membantu ibunya. Ia begitu cekatan melayani teman-temannya. Pantas karena ia senantiasa rajin membantu ibunya saat jam istirahat atau pagi sebelum masuk. Pandai benar anak itu melayani langganan ibunya. Ramah lagi.

Melihat Ratih membantu ibunya berjualan jajanan di sekolahnya, Vina menjadi penasaran. Saat ada kesempatan baik Vina menanyakan kepada Ratih apakah dirinya tidak malu membantu ibu berjualan di sekolah.

“Kenapa harus malu,Vina? “ ujar Ratih balik bertanya. “Bukankah membantu orang tua menjadi kewajiban kita?”

Ratih menjawab jujur bahwa dirinya tidak pernah merasa malu dengan membantu ibu berjualan. Kenapa harus malu? Malah menurut Ratih ia bangga jajanan ibu laris. Ia juga bangga karena ibu telah membantu menyediakan jajanan di sekolah hingga teman-temannya tidak harus pergi jauh keluar sekolah untuk berjajan.

Mendengar penuturan itu Vina menjadi sadar. Ia telah keliru menilai. Ia sadar kenapa ia malu ketika ibunya datang ke sekolah untuk mengambil cucian. Ia sadar bahwa malu itu tidak benar. Bahkan ia merasa rugi karena ibu menjadi berkurang pelanggannya.

Sejak itu Vina kembali mengizinkan ibunya ke sekolah untuk mengambil dan mengantar cucian jika sekolah membutuhkan.

“Ibu, mulai besok Vina mengizinkan ibu ke sekolah lagi untuk mengambil cucian, Bu!” kata Vina sepulang sekolah. “Vina minta maaf, Bu.”

“Baiklah kalau begitu,” kata ibunya.”Asal kamu tidak merasa malu lagi. Ibu akan datang ke sekolah lagi.”

Vina menggeleng. Kini ia menyesal sekali. Mengapa ia malu dengan pekerjaan ibunya. Padahal pekerjaan ibu jauh lebih hebat dari pada pekerjaan orang lain.

“Syukurlah jika kamu telah menyadari, Nak,” kata ibu lembut. “Mestinya kamu harus merasa bangga karena ibu memiliki pekerjaan sendiri. Lihatlah orang lain banyak yang tidak bekerja sedangkan ibumu bekerja.”

Vina diam tak menjawab. Dalam hatinya dia mengakui hal itu.

“Lagian hasil kerja ibu juga untuk biaya sekolah kamu, Nak. Dan Insyaalloh besok kamu bisa naik sepeda karena ibu akan membelikan sepeda baru buatmu. Uang itu juga berasal dari kerja keras ibu mencuci pakaian, Nak,” kata ibu menjelaskan.

Vina sangat terperanjat begitu mendengar mau dibelikan sepeda. Apalagi ketika tahu uang itu berasal dari hasil mencuci pakaian. Dia menjadi sangat terharu dengan kata-kata ibunya. Seketika itu Vina menghambur ke pangkuan ibunya. Ia sangat menyesal kenapa selama ini dirinya merasa malu. Vina mengisak dipangkuan ibu. Meski dari mulut kecilnya tak berucap kata maaf, tapi ibunya tahu dia menyesal. Dan sejak itu si tukang cuci kembali ke sekolah.(*)

 

Pengirim:

Riyadi, penulis cerita anak Purwokerto, pegiat literasi di Komunitas Penulis Karanglewas (KOMPAK), pendidik di Kabupaten Banyumas. Tinggal di jalan Buntu Pasirmuncang RT06/04 Purwokerto Barat 53137.

 

 

BAGIKAN