PERKEMBANGAN teknologi semakin pesat dari waktu ke waktu. Hal ini turut berdampak pada kehidupan sosial masyarakat dan mengubah cara seseorang dalam melakukan interaksi dan komunikasi. Dengan handphone, dulu seseorang hanya bisa mengirim pesan teks dan gambar dengan jumlah karakter yang terbatas. Lambat laun, dengan kecanggihan teknologi dan internet seseorang dapat melakukan banyak hal melalui mobile phone, seperti berkirim data, transaksi pembayaran, menonton film.

Perubahan yang terjadi pada lingkungan sosial, membuat dunia pendidikan juga harus beradaptasi dan merangkul pergeseran paradigma ini. Untuk memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi seluruh civitas akademika, teknologi mempunyai peran dalam layanan sistem informasi. Terlebih, bagi perguruan tinggi yang memiliki visi menjadi world class university (WCU), penerapan information and communication technology (ICT) di lingkungan kampus menjadi salah satu syarat yang wajib dipenuhi.

Perguruan tinggi di Indonesia, kini sudah mulai menerapkan konsep smart campus, yaitu konsep pemanfaatan teknologi informasi di lingkungan kampus baik dalam sistem pembelajaran maupun pelayanan. Dampak positif penerapan smart campus membuat semua elemen menjadi mudah untuk terhubung satu sama lain. Teknologi smart campus yang diterapkan di perguruan tinggi misalnya adanya jaringan wifi dan cctv, sistem informasi akademik, sistem informasi kepegawaian, sistem pembelajaran online (e-learning). Mahasiswa dan dosen bisa menikmati kemudahan akses informasi perkuliahan, beasiswa, layanan perpustakaan, layanan keuangan, dan supporting lainnya melalui sistem informasi terpadu. Dengan adanya sistem pembelajaran e-learning, juga diharapkan dapat mendukung pembelajaran dimana saja dan kapan saja karena materi perkuliahan berupa dokumen digital sehingga mudah diakses dari berbagai saluran.

Gencarnya penerapan smart campus juga ditandai dengan peluncuran smart card, smart building, dan smart parking. Beberapa perguruan tinggi di Indonesia seperti Universitas Telkom, ITB, Universitas Hasanuddin, sudah menerapkan smart card sejak lama. Dengan adanya smart card, mahasiswa atau dosen cukup mempunyai satu kartu sakti yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan seperti absensi perkuliahan, tanda pengenal, dan melakukan transaksi keuangan.

Penerapan sistem teknologi membuat proses pelayanan dan pembelajaran menjadi lebih efisien karena memangkas proses kerja manual yang seringkali memakan waktu dan tenaga. Controlling manajemen terhadap performa pegawai maupun lembaga secara keseluruhan juga akan lebih mudah. Sebagai contoh, kehadiran dosen dan pegawai terhubung dengan sistem absensi online, sehingga evaluasi kehadiran bisa dilakukan secara real time. Perubahan proses bisnis yang serba terintegrasi seperti ini membuat manajemen perguruan tinggi menjadi semakin lebih baik. Hal ini tentunya akan berdampak terhadap peningkatan mutu layanan pendidikan dan kepuasan pemangku kepentingan yaitu mahasiswa, dosen dan staff.

Seluruh layanan yang dideliver dengan membangun smart campus memang membutuhkan teknologi informasi dan infrastruktur yang kuat serta pendanaan yang cukup besar, sehingga biasanya dilakukan secara bertahap. Tidak hanya itu, juga diperlukan kerjasama dengan berbagai pihak dari berbagai bidang dan disiplin ilmu. Karena keberhasilan implementasi smart campus ini merupakan hasil nyata dari kerjasama yang dilakukan oleh lembaga riset, pemerintah, perguruan tinggi dan industri telekomunikasi. (*)